PEKANBARU – Kabar baik datang di tengah persoalan kabut asap yang sempat mengganggu aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Riau. Setelah hampir sepekan menerapkan pembelajaran secara daring, sejumlah kabupaten dan kota mulai kembali membolehkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Seperti Kabupaten Kampar dan Pekanbaru sudah mulai berlakukan pembelajaran tatak muka di sekolah. Sementara di Pelalawan layanan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara serta tingkat risiko kesehatan. Jika kondisi udara dinilai membahayakan, pembelajaran dapat dialihkan dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau secara daring. Kebijakan ini berlaku sejak 31 Agustus hingga 2 September 2026.
Meski demikian, potensi karhutla masih perlu diwaspadai pemerintah daerah. Berdasarkan data terbaru BMKG Stasiun Pekanbaru pada Senin (31/8/2026), masih terdeteksi 62 titik panas (hotspot) di Provinsi Riau.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Indah, mengatakan jumlah titik panas di Riau tersebut merupakan bagian dari total 1.874 hotspot yang terpantau di wilayah Sumatera.
“Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera sebanyak 1.874 titik. Untuk Riau terpantau sebanyak 62 titik panas,” kata Indah, Senin (31/8/2026).
Sebaran hotspot di Riau paling banyak terpantau di Kabupaten Indragiri Hilir dengan 49 titik. Selanjutnya Kabupaten Pelalawan sebanyak tujuh titik, Indragiri Hulu empat titik, serta Kabupaten Kuantan Singingi dan Siak masing-masing satu titik.
“Untuk sebaran titik panas di Riau, Kabupaten Indragiri Hilir terpantau sebanyak 49 titik, Pelalawan tujuh titik, Indragiri Hulu empat titik, serta Kuantan Singingi dan Siak masing-masing satu titik,” ujarnya.
Secara regional, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 1.019 titik. Kemudian Bangka Belitung 332 titik, Lampung 121 titik, Aceh 119 titik, Sumatera Utara 93 titik, Jambi 85 titik, Bengkulu 18 titik, Sumatera Barat 15 titik, Kepulauan Riau 10 titik, dan Riau 62 titik.
Mulai kembalinya pembelajaran tatap muka di sejumlah daerah menjadi salah satu indikasi membaiknya kondisi udara setelah sebelumnya kabut asap memaksa sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Namun, dengan masih ditemukannya puluhan hotspot di Riau, masyarakat dan pemerintah daerah tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api baru, terutama di wilayah yang masih memiliki aktivitas karhutla.
BMKG juga mengingatkan bahwa keberadaan hotspot perlu terus dipantau karena kondisi cuaca dan angin dapat memengaruhi penyebaran asap apabila terjadi kebakaran.