PEKANBARU - Lanskap industri media kini telah berubah drastis. Audiens muda tidak lagi mengonsumsi teks berita yang panjang, melainkan beralih pada konten visual yang ringkas dan memikat.
Kondisi ini menuntut para pelaku media di daerah untuk segera beradaptasi menguasai Kecerdasan Buatan (AI) agar tidak tertinggal oleh zaman.
Urgensi inilah yang menjadi sorotan utama dalam workshop bertajuk "Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Produksi Konten Multimedia".
Acara kolaborasi antara Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Riau dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komda Riau ini sukses mengumpulkan sekitar 170 jurnalis, staf hubungan masyarakat, hingga perwakilan komunikasi perusahaan di Kota Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).
Transformasi format berita tradisional menjadi kebutuhan mutlak. Hal tersebut ditegaskan oleh Strategic Partner Manager YouTube Indonesia, Isabella Wibowo.
Menurutnya, terjadi pergeseran kebiasaan yang masif, generasi muda kini lebih menyukai format video pendek atau dokumenter bergaya santai yang mudah dicerna.
Isabella menekankan, media lokal maupun kreator independen punya peluang emas mendulang jutaan penonton. Kuncinya ada pada kemasan visual.
"Gambar pratinjau (thumbnail) video harus memiliki warna cerah, kontras tinggi, dan elemen wajah yang mudah dibaca saat dibuka melalui layar ponsel pintar," ungkap Isabella yang hadir secara daring.
Ia juga membocorkan formula judul penarik klik, pastikan panjangnya di bawah 70 karakter dengan kata kunci peristiwa atau nama tokoh berada di awal kalimat.
Selain visual, efisiensi kerja redaksi menggunakan AI menjadi senjata baru yang krusial.
Senior Editor dan Social Media Specialist Suara.com, Elga Maulina membeberkan pentingnya melatih AI agar menghasilkan narasi yang memiliki kedekatan emosional dengan pembaca lokal.
Jurnalis di Pekanbaru disarankan menyisipkan elemen bahasa daerah atau isu spesifik lokal (inside jokes) ke dalam prompt (perintah) AI.
Langkah ini memastikan hasil akhir tulisan tidak kaku bak robot, melainkan terasa relevan dengan masyarakat setempat.
Elga juga mendemonstrasikan keandalan Gemini Notebook. Alat ini mampu mengekstraksi sumber data kompleks, termasuk tautan video YouTube, untuk disulap menjadi draf artikel hingga naskah infografis.
"Meskipun AI cerdas, hasilnya tetap membutuhkan sentuhan akhir dari penyunting untuk menyesuaikan diksi dan konteks," tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Product Manager Tempo Digital, Dimas Ibrahim, memberikan rambu-rambu penting.
Ia menekankan, dalam pemanfaatan AI, jurnalis harus benar-benar mengenali batasan teknologi ini agar konten yang diproduksi tetap faktual, aktual, dan sejalan dengan kondisi riil di lapangan, bukan sekadar halusinasi mesin.
Pelatihan intensif ini pun menuai respons positif dari para peserta yang merasa mendapatkan bekal relevan untuk menghadapi disrupsi digital.
"Banyak ilmu yang kami dapati dari narasumber yang ahli di bidangnya," ucap Pajri Ilyasman, salah satu peserta dari Halloriau.com.
"Suasana workshopnya nyaman membuat peserta semangat mengikuti dari awal sampai akhir. Sukses selalu buat AMSI dan APHI," tukasnya.