PEKANBARU - Pemprov Riau menyiapkan strategi berbasis cuaca untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah satunya dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan awan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kalaksa BPBD Riau, M Edy Afrizal mengatakan, OMC tidak dapat dilakukan setiap saat. Operasi tersebut hanya memungkinkan ketika terdapat awan yang memenuhi kondisi untuk disemai sehingga berpotensi menghasilkan hujan di wilayah sasaran.
“OMC dilakukan berdasarkan kondisi awan. Kalau ada awannya, baru bisa kita lakukan,” kata Edy, Minggu (23/8/2026).
Menurut Edy, pemantauan cuaca menunjukkan adanya peluang pertumbuhan awan pada 23-24 Agustus 2026. Potensi serupa juga diperkirakan kembali muncul sekitar 29 Agustus.
Momentum tersebut akan menjadi perhatian tim untuk menentukan waktu pelaksanaan OMC. Pemerintah daerah berharap tambahan hujan dari operasi modifikasi cuaca dapat membantu membasahi wilayah rawan serta mendukung upaya pemadaman karhutla.
“Tanggal 23-24 Agustus ada pertumbuhan awan, kemudian kosong, lalu sekitar tanggal 29 Agustus ada potensi pertumbuhan awan lagi. Kita manfaatkan itu untuk segera melakukan OMC,” ujarnya.
BPBD Riau masih memantau perkembangan awan di sejumlah wilayah. Kawasan utara Riau menjadi salah satu area yang mendapat perhatian karena potensi pertumbuhan awannya akan menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi penyemaian.
“Wilayahnya masih kita pantau, terutama di wilayah utara Riau. Kalau ada awan yang memungkinkan, kita lakukan OMC,” jelas Edy.
Untuk mendukung operasi tersebut, BPBD Riau menyiapkan satu pesawat Cessna Caravan.
Pesawat ini akan digunakan untuk melakukan penyemaian bahan berupa garam ke awan yang memenuhi kriteria untuk dimodifikasi.
Skema tersebut menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla melalui jalur udara, terutama ketika kondisi atmosfer memberikan peluang untuk meningkatkan potensi hujan.
Selain OMC, operasi pemadaman dari udara tetap berjalan melalui metode water bombing.
Namun, jumlah armada yang tersedia di Riau mengalami pengurangan karena sebagian pesawat dialihkan untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan.
Dari enam pesawat water bombing yang sebelumnya berada di Riau, kini tersisa empat unit. Tiga pesawat masih digunakan untuk operasi, sedangkan satu unit menjalani perawatan.
“Sekarang tersisa empat unit, tiga beroperasi dan satu maintenance,” kata Edy.
Dukungan udara juga diperkuat dengan dua helikopter yang digunakan untuk melakukan patroli.
Pemantauan dari udara tersebut penting untuk mendeteksi titik api sekaligus membantu menentukan prioritas penanganan di lapangan.
Pemprov Riau tidak menjadikan OMC sebagai satu-satunya strategi menghadapi karhutla.
Operasi modifikasi cuaca diposisikan sebagai dukungan terhadap pemadaman yang dilakukan tim di darat maupun melalui operasi udara.
Strategi ini menjadi penting karena kondisi cuaca diperkirakan tidak selalu memberikan peluang pertumbuhan awan.
Karena itu, setiap kemunculan awan yang memungkinkan akan dimanfaatkan secara optimal.