PEKANBARU - Jumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Riau mengalami lonjakan signifikan pada Sabtu (22/8/2026) sore.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, total hotspot di Riau mencapai 247 titik, menjadikannya salah satu provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi di Pulau Sumatera.
Lonjakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya total hotspot di seluruh Sumatera yang kini mencapai 1.589 titik.
Meski Sumatera Selatan masih mencatat angka tertinggi dengan 796 titik panas, peningkatan di Riau menjadi perhatian karena penyebarannya terjadi di sejumlah wilayah yang selama ini rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira mengatakan, total hotspot di Pulau Sumatera terus meningkat hingga Sabtu sore.
"Total titik panas wilayah Sumatera pada Sabtu sore mencapai 1.589 titik. Sementara di Provinsi Riau terpantau sebanyak 247 titik panas," kata Yudhistira.
Data BMKG menunjukkan, dari 247 hotspot di Riau, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni mencapai 155 titik atau lebih dari separuh total hotspot di provinsi tersebut.
Kondisi ini menempatkan Pelalawan sebagai daerah yang paling perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan dan penanggulangan potensi karhutla.
Selain Pelalawan, konsentrasi titik panas juga terdeteksi di Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 50 titik dan Kabupaten Siak sebanyak 10 titik.
Sementara itu, wilayah lainnya mencatat jumlah hotspot yang lebih rendah, yakni Kepulauan Meranti tujuh titik, Kampar enam titik, Bengkalis lima titik, Kuantan Singingi lima titik, Indragiri Hulu tiga titik, serta masing-masing dua titik di Dumai, Rokan Hulu, dan Rokan Hilir.
Secara regional, distribusi hotspot di Pulau Sumatera terdiri atas Sumatera Selatan sebanyak 796 titik, Riau 247 titik, Bangka Belitung 192 titik dan Jambi 152 titik.
Kemudian, Lampung 110 titik, Kepulauan Riau 41 titik, Sumatera Utara 23 titik, Bengkulu 10 titik, serta masing-masing sembilan titik di Aceh dan Sumatera Barat.
Meningkatnya jumlah hotspot menjadi indikator penting yang terus dipantau karena dapat mengindikasikan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memasuki musim kemarau.
BMKG bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan perkembangan hotspot sebagai dasar langkah mitigasi dini untuk menekan risiko meluasnya karhutla.