PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau terus memperkuat strategi pengendalian inflasi sekaligus meningkatkan ketahanan pangan daerah. Salah satu langkah yang disiapkan yakni Gerakan Tanam 100 Ribu Bibit Cabai yang akan mulai dilaksanakan pada 22 Agustus 2026.
Program tersebut digagas PT Riau Pangan Bertuah (RPB) sebagai tindak lanjut arahan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau. Gerakan ini menyasar masyarakat dan kelompok tani untuk meningkatkan produksi cabai sekaligus menjaga ketersediaan komoditas di pasaran.
Cabai menjadi salah satu komoditas yang kerap memengaruhi laju inflasi karena harga dan pasokannya mudah berfluktuasi. Dengan mendorong produksi di tingkat masyarakat, pemerintah berharap ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan.
Direktur PT Riau Pangan Bertuah, Ade Putra Daulay, mengatakan pihaknya telah menyiapkan 100 ribu bibit cabai melalui kolaborasi dengan Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Provinsi Riau.
Bibit tersebut nantinya diserahkan secara simbolis kepada Plt Gubernur Riau sebelum didistribusikan secara bertahap ke pemerintah kabupaten/kota melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
"Bibit akan diserahkan secara simbolis kepada pak Gubernur, kemudian didistribusikan ke daerah-daerah. Sasarannya masyarakat dan kelompok tani, termasuk kelompok wanita tani, agar mampu meningkatkan produksi cabai di tingkat rumah tangga," kata Ade, Selasa (19/8/2026).
Menurut Ade, gerakan tanam tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi cabai, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga. Semakin banyak cabai yang diproduksi di daerah, diharapkan pasokan di pasar semakin terjaga.
Program ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Riau terhadap pasokan cabai dari luar daerah. Dengan demikian, ketika terjadi gangguan pasokan atau kenaikan harga di daerah lain, dampaknya terhadap harga cabai di Riau dapat diminimalkan.
Selain menjadi strategi pengendalian inflasi, Gerakan Tanam 100 Ribu Bibit Cabai diharapkan memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat. Produksi hortikultura dari rumah tangga, kelompok tani dan kelompok wanita tani diharapkan terus berkembang sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga ketersediaan pangan daerah.