PEKANBARU – Sebaran titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera kembali menunjukkan tren tinggi. Berdasarkan pemantauan BMKG Pekanbaru, hingga Kamis (13/8/2026) sore, tercatat 431 hotspot tersebar di berbagai provinsi, dengan konsentrasi terbanyak berada di Sumatera Selatan dan Lampung.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang mengatakan, hasil pemantauan satelit menunjukkan Riau menjadi salah satu provinsi dengan jumlah hotspot yang masih cukup signifikan.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Kamis (13/8/2026) sore ada 431 titik," kata Elisa JS Kedang.
Dari total tersebut, Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak yakni 172 titik, disusul Lampung 93 titik, Riau 46 titik, Bengkulu 27 titik, Sumatera Barat 22 titik, Jambi 21 titik, Sumatera Utara 21 titik, Bangka Belitung 20 titik, Aceh 7 titik, dan Kepulauan Riau 2 titik.
Di Provinsi Riau, total 46 titik panas tersebar di delapan kabupaten. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul Pelalawan.
Rincian meliputi Bengkalis 16 titik, Pelalawan 11 titik, Kampar 5 titik, Kuantan Singingi 5 titik, Rokan Hulu 4 titik, Rokan Hilir 2 titik, Siak 2 titik dan Indragiri Hilir 1 titik.
Sebaran tersebut menjadi indikator penting dalam upaya pemantauan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan mengalami kondisi kering.
BMKG mengingatkan bahwa hotspot bukan berarti secara otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran, melainkan menjadi sinyal awal yang perlu diverifikasi lebih lanjut oleh petugas di lapangan.
Meningkatnya jumlah hotspot di sejumlah kabupaten menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih intensif, khususnya di daerah rawan karhutla.
Data hotspot menjadi salah satu acuan bagi pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana untuk melakukan patroli serta langkah mitigasi guna mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.