PEKANBARU – Di sebuah rumah sederhana di Jalan Sidomulyo, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, dua bocah menjalani masa kecil yang berbeda dari anak seusianya. Bukan karena kurang kasih sayang, tapi karena tubuh mereka rapuh. Lebih rapuh dari yang seharusnya.
Mereka adalah M. Raihan, 11 tahun, dan adiknya Fajri, 7 tahun. Keduanya didiagnosis menderita Osteogenesis Imperfecta atau yang dikenal masyarakat sebagai *"penyakit tulang kaca". Kondisi genetik langka ini membuat tulang mereka sangat rapuh dan mudah patah, bahkan hanya karena benturan ringan.
Di balik Raihan dan Fajri, ada orang tua mereka, Eko Suharno, 59 tahun, seorang mekanik bengkel, dan istrinya Reni Angelina, ibu rumah tangga. Dari 5 anak mereka, 3 tumbuh sehat. Namun dua anak bungsu harus berjuang setiap hari dengan keterbatasan fisik, pengawasan penuh, dan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Kisah mereka mendapat perhatian serius sejak tahun 2022. Atas arahan pimpinan, Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau bergerak cepat. Bukan sekadar memberi bantuan sesaat, tapi membentuk satu tim lintas profesi untuk penanganan komprehensif.
"Satu arahan disampaikan kepada Kompol dr. Firmansyah: percepat penanganan anak ini, jangan biarkan mereka menunggu lebih lama," begitu semangat yang digaungkan.
Penanganan Komprehensif Selama 3,5 Tahun
Sejak kunjungan pertama pada 2022 hingga _home visit_ sampai dengan saat ini, tim RS Bhayangkara Polda Riau tidak pernah absen.
Tim yang terdiri dari 14 orang ini meliputi dokter spesialis, perawat, apoteker, ahli gizi, hingga pengemudi ambulan. Mereka datang langsung ke rumah, melakukan pemeriksaan, memberikan terapi, obat-obatan, edukasi gizi, hingga monitoring rutin.
Seluruh proses, mulai dari evakuasi awal, pemeriksaan, hingga pengobatan, difasilitasi penuh oleh institusi. Tidak ada satu pun beban biaya yang ditanggung keluarga Eko Suharno.
"Osteogenesis Imperfecta bukan penyakit yang selesai dengan satu resep. Ini perjalanan panjang yang butuh pemantauan terus-menerus," ujar salah satu tim medis.
Bukti nyata penanganan itu terlihat. Raihan dan Fajri kini bisa tersenyum, bermain, dan tetap semangat meski harus menggunakan alat bantu jalan. Foto rontgen dan resume medis kedua anak juga terus dipantau oleh tim.
Lebih dari Tugas, Ini Kepedulian
Dalam setiap kunjungan, terlihat kehangatan. Petugas kepolisian duduk bersama keluarga di atas tikar, berbincang, mendengarkan keluh kesah, dan memberikan semangat. Bantuan tidak hanya medis, tapi juga moral.
Bagi keluarga, kehadiran tim ini adalah anugerah. "Dulu awalnya kami tidak tahu harus berobat ke mana. Sekarang semua ditangani. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Kapolda dan tim RS Bhayangkara," ungkap Reni Angelina.
Osteogenesis Imperfecta adalah kelainan genetik yang menyebabkan pembentukan kolagen tidak sempurna. Akibatnya tulang menjadi rapuh, mudah patah, dan pertumbuhan bisa terhambat. Penanganannya membutuhkan tim multidisiplin dan waktu yang panjang.
Kisah Raihan dan Fajri menjadi bukti bahwa *keadilan dalam pelayanan kesehatan bukan sekadar slogan*. Ketika negara hadir melalui institusinya, harapan untuk masa depan anak-anak "tulang kaca" ini menjadi lebih terang.
Perjuangan mereka belum selesai. Dan tim RS Bhayangkara Polda Riau memastikan, mereka akan terus hadir. Karena kepedulian yang sesungguhnya, tidak pernah mengenal kata "selesai". (rls)