PEKANBARU – Provinsi Riau kembali menjadi salah satu daerah dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi di Pulau Sumatera.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru pada Rabu (1/7/2026) sore, terdeteksi 17 hotspot yang tersebar di tujuh kabupaten/kota.
Dari total tersebut, Kabupaten Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai delapan titik, disusul Kabupaten Pelalawan sebanyak tiga titik dan Kabupaten Siak dua titik.
Sementara itu, masing-masing satu titik panas terpantau di Kabupaten Bengkalis, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, serta Kota Pekanbaru.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang mengatakan, secara keseluruhan terdapat 62 titik panas yang terpantau di wilayah Sumatera hingga Rabu sore.
"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera pada Rabu sore sebanyak 62 titik. Untuk Provinsi Riau terdeteksi sebanyak 17 titik," ujarnya.
Berdasarkan data BMKG, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan hotspot terbanyak, yakni 20 titik.
Posisi berikutnya ditempati Riau dengan 17 titik, disusul Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 14 titik.
Sementara itu, provinsi lainnya mencatat jumlah hotspot yang lebih sedikit, yakni Aceh tiga titik, Sumatera Utara tiga titik, Bengkulu dua titik, Lampung dua titik, dan Jambi satu titik.
Sebaran 17 hotspot di Riau sore ini meliputi, Kabupaten Indragiri Hulu 8 titik, Kabupaten Pelalawan 3 titik, Kabupaten Siak 2 titik dan Kabupaten Bengkalis 1 titik.
Kemudian, Kabupaten Kuantan Singingi 1 titik, Kabupaten Rokan Hilir 1 titik dan Kota Pekanbaru 1 titik.
Data hotspot dari BMKG merupakan indikator awal yang digunakan untuk memantau potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, keberadaan titik panas belum tentu menunjukkan adanya kebakaran sehingga tetap memerlukan verifikasi lapangan oleh instansi terkait.
Masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki titik panas, diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, mengingat kondisi cuaca kering berpotensi memperbesar risiko terjadinya karhutla.