PEKANBARU – Kabar positif datang dari Provinsi Riau terkait kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pemantauan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tidak ditemukan satu pun titik panas (hotspot) di wilayah Riau pada Kamis (25/6/2026) sore.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi karhutla pada musim kemarau, nihilnya hotspot di Riau menjadi indikator bahwa kondisi pemantauan kebakaran lahan masih relatif terkendali.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine menjelaskan, secara keseluruhan jumlah hotspot di Pulau Sumatera juga terpantau rendah.
"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera pada Kamis sore terdeteksi sebanyak delapan titik," ujar Mari Frystine.
Berdasarkan data BMKG, delapan hotspot tersebut tersebar di Aceh 2 titik, Sumatera Selatan 2 titik, Kepulauan Bangka Belitung 3 titik dan Lampung 1 titik.
Tidak adanya hotspot di Riau menjadi perkembangan yang cukup menggembirakan mengingat provinsi ini selama bertahun-tahun masuk dalam wilayah yang rawan karhutla saat musim kering berlangsung.
Meski demikian, BMKG dan instansi terkait tetap mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Pengawasan dini tetap diperlukan guna menjaga kondisi yang saat ini masih aman.
Pemantauan hotspot merupakan salah satu indikator penting dalam mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Data tersebut diperoleh melalui satelit yang mampu mendeteksi anomali suhu di permukaan bumi yang berpotensi mengindikasikan adanya aktivitas pembakaran.
Dengan kondisi hotspot yang masih minim di Sumatera dan nihil di Riau, upaya pencegahan karhutla diharapkan terus diperkuat agar kualitas udara dan lingkungan tetap terjaga sepanjang musim kemarau tahun ini.