PEKANBARU - Di tengah meningkatnya kewaspadaan sejumlah daerah terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau, Provinsi Riau justru mencatat capaian positif.
Hingga pertengahan Juni 2026, tidak ditemukan kasus karhutla yang terjadi di wilayah tersebut.
Kondisi ini menjadi kabar menggembirakan bagi masyarakat Riau yang selama bertahun-tahun kerap menghadapi ancaman kebakaran lahan gambut dan kabut asap saat musim kemarau.
Namun demikian, pemerintah daerah memilih untuk tidak lengah dan terus memperkuat langkah antisipasi.
Kalaksa BPBD Riau, M Edy Afrizal mengungkapkan, seluruh wilayah Riau saat ini berada dalam kondisi aman dari karhutla.
Beberapa titik api yang sebelumnya sempat terdeteksi di Kabupaten Pelalawan, Siak, dan Rohil berhasil ditangani secara cepat sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
"Alhamdulillah hari ini kita di Riau tidak ada kasus karhutla alias nihil," kata Edy Afrizal, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam melakukan pemantauan, pencegahan, dan penanganan dini terhadap potensi kebakaran yang muncul selama memasuki musim kemarau.
Meski kondisi terkendali, BPBD Riau tetap menempatkan kesiapsiagaan sebagai prioritas utama.
Personel, peralatan, serta berbagai sumber daya pendukung terus disiagakan di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran lahan dan hutan.
Sebagai langkah penguatan mitigasi, Riau kini memperoleh tambahan satu unit helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Armada tersebut menggantikan salah satu helikopter milik Riau yang saat ini diperbantukan untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla di Aceh.
Tidak hanya itu, dua unit helikopter water bombing tambahan juga tengah dalam proses mobilisasi dari Australia menuju Indonesia.
Kehadiran armada baru tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas respons cepat jika sewaktu-waktu muncul titik api di wilayah Riau.
Helikopter water bombing menjadi salah satu sarana vital dalam penanganan karhutla, terutama untuk menjangkau kawasan gambut serta lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat.
Dengan dukungan operasi udara, proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat sehingga mencegah api meluas dan menimbulkan kabut asap.
BPBD Riau berharap tren positif tanpa karhutla ini dapat terus dipertahankan hingga puncak musim kemarau.
Namun di sisi lain, seluruh unsur penanggulangan bencana tetap diminta menjaga kewaspadaan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif apabila terjadi kebakaran.
"Langkah ini menjadi bagian dari upaya kita dalam menjaga Riau tetap bebas dari bencana kabut asap," tutup Edy.
Keberhasilan mempertahankan kondisi nihil karhutla hingga pertengahan Juni menjadi indikator bahwa upaya pencegahan dan deteksi dini yang dilakukan selama ini berjalan efektif.
Meski demikian, ancaman kebakaran masih berpotensi muncul seiring meningkatnya suhu dan berkurangnya curah hujan, sehingga kesiapan seluruh pihak tetap menjadi kunci utama menjaga langit Riau tetap bebas asap.