PEKANBARU - Lonjakan suhu dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera terus menunjukkan tren yang perlu diwaspadai.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melaporkan adanya ratusan titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai provinsi pada Kamis (28/5/2026) sore.
Berbeda dengan periode sebelumnya di mana wilayah pesisir timur sering menjadi episentrum, data terbaru menunjukkan pergeseran intensitas ke wilayah Sumatera bagian selatan dan barat utara.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby memaparkan, berdasarkan pantauan sensor satelit, total titik panas di seluruh daratan Sumatera saat ini telah mencapai angka hampir dua ratus titik.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Kamis (28/5/2026) sore ada 186 titik," ujar Deby.
Berdasarkan data agregat BMKG, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi sore ini dengan menyumbang 51 titik panas.
Posisi kedua diikuti oleh Provinsi Aceh dengan 34 titik, dan Jambi dengan 30 titik panas.
Sementara itu, Provinsi Riau yang kerap menjadi perhatian nasional dalam isu karhutla, sore ini terpantau relatif terkendali dengan total 3 titik panas yang tersebar di tiga kabupaten berbeda.
Rincian sebaran 186 hotspot di wilayah Sumatera sore ini meliputi, Sumatera Selatan 51 titik, Aceh 34 titik, Jambi 30 titik, Bengkulu 25 titik, Bangka Belitung 18 titik, Lampung 10 titik, Sumatera Barat 9 titik, Sumatera Utara 4 titik, Riau 3 titik dan Kepulauan Riau 2.
Meskipun angka di Provinsi Riau tergolong rendah dibandingkan wilayah tetangga, BMKG tetap meminta pihak satgas penanggulangan bencana dan masyarakat untuk tidak lengah.
Tiga titik panas yang terdeteksi berada di area krusial, yaitu Kabupaten Rokan Hulu 1 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 1 titik dan Kabupaten Pelalawan 1 titik.
Karakteristik lahan gambut di ketiga wilayah Riau tersebut membuat pengawasan intensif tetap harus dilakukan guna mencegah percikan api kecil meluas menjadi kebakaran besar.
Pihak berwenang diimbau untuk terus melakukan patroli mandiri dan menjaga ketersediaan sumber air di sekitar kawasan rawan.