PEKANBARU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menghantui Provinsi Riau. Dua titik kebakaran terdeteksi muncul di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), tepatnya di wilayah Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih dan Pasir Limau Kapas, Senin (25/5/2026).
Kondisi ini memicu kewaspadaan serius karena salah satu titik api berada di kawasan perbatasan Riau dengan Sumatera Utara (Sumut), sehingga menyulitkan tim darat untuk menjangkau lokasi pemadaman.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, hingga sore hari kedua lokasi masih mengeluarkan asap dan proses penanganan akan dilanjutkan pada Selasa (26/5/2026).
“Lokasi yang terpantau tadi berada di wilayah Rantau Bais, Tanah Putih dan Pasir Limau Kapas, keduanya di Rohil. Salah satunya berada tepat di perbatasan dengan Sumut, sehingga tim darat kami masih mencari akses dari wilayah Labuhanbatu,” ujar Ferdian.
Menurutnya, tim gabungan masih terus melakukan pemantauan untuk memastikan api tidak meluas ke area lain yang lebih sulit dikendalikan.
“Besok akan dilanjut dengan bantuan water bombing sambil tim darat Manggala Agni mencari akses dan informasi dari satgas setempat untuk ketersediaan air,” jelasnya.
Situasi tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya ancaman Karhutla di Riau seiring masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah.
Kondisi cuaca panas dan minim hujan dinilai sangat rentan memicu kebakaran, terutama di kawasan gambut.
Berdasarkan data analisa citra satelit hasil kolaborasi Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), luas Karhutla di Riau sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 14.854,9 hektare.
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang hanya mencapai 1.099 hektare.
Meski demikian, luasan kebakaran tahun ini masih berada di bawah periode El Nino kuat tahun 2019 yang mencapai 26.375,2 hektare.
Kabupaten Bengkalis menjadi daerah dengan area terbakar paling luas, yakni mencapai 8.060,9 hektare.
Mayoritas kebakaran terjadi di lahan gambut seluas 7.843,9 hektare, sedangkan lahan mineral tercatat 217 hektare.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas Karhutla mencapai 4.470,1 hektare. Dari total tersebut, sekitar 4.273,6 hektare merupakan kawasan gambut.
Sementara itu, Kabupaten Inhil mencatat luas lahan terbakar sebesar 819,6 hektare dan Kota Dumai mencapai 550,5 hektare.
Data lintas lembaga tersebut menunjukkan dominasi kebakaran masih terjadi di lahan gambut yang memiliki tingkat kerentanan tinggi saat cuaca kering berkepanjangan.
Dari total 14.854,9 hektare lahan terbakar di Riau selama 2026, sekitar 13.831,1 hektare berada di kawasan gambut. Sedangkan lahan mineral tercatat mencapai 1.023,9 hektare.
Lonjakan Karhutla tahun ini bahkan meningkat lebih dari 13 kali lipat dibandingkan tahun 2023. Kondisi tersebut mendorong seluruh pihak untuk memperkuat langkah antisipasi agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana asap berskala besar seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.