PEKANBARU - Aktivitas malam akhir pekan masyarakat di Provinsi Riau dan sebagian besar wilayah Pulau Sumatera mendadak lumpuh total.
Ganguan massal pada sistem kelistrikan (blackout) dilaporkan terjadi sejak Jumat petang, sekitar pukul 18.44 WIB, meninggalkan jutaan pelanggan dalam kondisi gelap gulita.
Tidak hanya merugikan warga Riau, pemadaman interkoneksi ini meluas bak efek domino hingga melumpuhkan lima provinsi tetangga, yakni Sumatera Utara, Aceh, Jambi, Lampung, dan Sumatera Barat.
Berdasarkan investigasi awal, pemadaman berskala besar ini dipicu pecahnya sistem interkoneksi yang menghubungkan dua wilayah krusial di Sumatera. Kerusakan dilaporkan terjadi pada area teknis yang vital.
Pihak PT PLN (Persero) langsung mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden yang mengganggu aktivitas jutaan warga Sumatera ini.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Info sementara pukul 18.44 WIB sistem Sumatera Bagian Utara-Sumatera Bagian Tengah terpisah dan Sumatera Bagian Utara padam total,” tulis pernyataan resmi PLN.
Lebih lanjut, PLN menjelaskan, akar masalah berada pada gangguan di sisi sistem transmisi tegangan tinggi serta sektor pembangkitan energi.
“Gangguan terjadi di sisi sistem transmisi 150 kiloVolt (kV) dan pembangkitan. Tim kami sedang melakukan penanganan secepat mungkin agar sistem dapat kembali normal,” tambah pihak PLN dalam rilisnya.
Hingga berita ini diturunkan menjelang tengah malam, mayoritas wilayah di Kota Pekanbaru dan kabupaten/kota lain di Provinsi Riau dilaporkan masih gelap gulita.
Jaringan telekomunikasi di beberapa titik juga mulai menunjukkan penurunan kualitas akibat back-up daya baterai base transveiver station (BTS) yang melemah.
PLN mengaku belum bisa memastikan total kerugian material maupun jumlah kepastian beban listrik yang terdampak karena proses pendataan masih berjalan secara paralel dengan upaya perbaikan di lapangan.
Bagi masyarakat Riau dan sekitarnya, diimbau untuk memastikan penggunaan alat penerangan alternatif seperti lilin atau lampu darurat digunakan secara aman guna menghindari risiko kebakaran selama masa pemulihan (recovery) sistem transmisi dilakukan.