PEKANBARU - Pengamat Politik Riau Agung Wicaksono, S.IP, MPA, Ph.D angkat bicara mengenai sikap Wakil Gubernur Riau SF Hariyanto dalam menolak penabalan gelar adat oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.
Dikatakan Agung, dalam perspektif ilmu politik, sikap Wakil Gubernur yang menolak penabalan gelar adat karena merasa belum banyak berkontribusi bisa dibaca sebagai bentuk political self-restraint.
"Kita melihat terdapat sikap menahan diri secara sadar sebagai bentuk etika politik dan kehati-hatian dalam menerima legitimasi simbolik dari lembaga adat," ungkapnya.
Hal itu, dikatakan Akademisi Universitas Islam Riau tersebut mencerminkan kesadaran akan pentingnya korelasi antara simbol kehormatan dan kinerja nyata.
Berbeda dengan Gubernur Riau yang menerima pinangan LAM Riau dan akan dilakukan penabalan gelar adat pada Sabtu, 5 Juli 2025, Agung mengatakan keputusan Gubernur menerima gelar adat merupakan bentuk political acceptance atas legitimasi simbolik yang diberikan masyarakat.
"Dalam tata kelola pemerintahan, simbol-simbol seperti ini bisa memperkuat posisi moral seorang pemimpin di mata publik, selama tetap diiringi dengan akuntabilitas dan kinerja," ungkapnya.
Lebih lanjut, keduanya adalah ekspresi sah dalam ruang demokrasi dan budaya lokal, yang mencerminkan cara masing-masing aktor memposisikan diri dalam hubungan antara kekuasaan, masyarakat, dan nilai-nilai kultural.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Riau SF Hariyanto menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau yang akan memberikan gelar adat kepadanya.
Hanya saja, mantan Pj Gubernur Riau itu mengaku belum pantas mendapatkan penghargaan yang tinggi tersebut. Kondisi itu dikarenakan pasca dilantik Presiden Prabowo beberapa waktu lalu, SF Hariyanto mengaku belum banyak bisa berbuat untuk kemajuan Riau.
Hal ini karena adanya keterbatasan kewenangan dalam menularkan program serta inovasi di Bumi Melayu Lancang Kuning.
"Pertama-tama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak LAM yang berencana akan memberikan gelar adat kepada saya. Secara pribadi saya sangat terharu, cuma saya berfikir sepertinya belum pantas, karena belum terlihat kontribusi berarti dari pemerintahan untuk masyarakat Riau," terangnya.
Penulis: Yuni
Editor: Riki