JAKARTA - Penyelenggara Formula 1 (F1) Grand Prix (GP) Singapura mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kabut asap lintas batas yang dapat mengganggu pelaksanaan balapan tahun ini.
Risiko kabut asap kembali menjadi perhatian menjelang GP Singapura 2026. Mengutip Channel NewsAsia (CNA), otoritas Singapura menilai risiko memburuknya kualitas udara meningkat apabila kebakaran hutan di Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, semakin intensif.
Saat ini, indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) di Singapura masih berada pada kategori moderat, yakni 51–100. Namun, Badan Meteorologi Singapura memperingatkan kondisi berkabut dapat terjadi apabila kebakaran semakin meluas, sementara kondisi kering diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Mengantisipasi kemungkinan tersebut, penyelenggara GP Singapura telah memasukkan potensi kabut asap ke dalam rencana kontingensi penyelenggaraan acara.
Penyelenggara juga berkoordinasi dengan sejumlah lembaga pemerintah untuk menentukan langkah yang diperlukan apabila kualitas udara mulai memengaruhi jarak pandang, kesehatan masyarakat, maupun operasional balapan.
“Rencana tersebut dirumuskan dan disempurnakan bersama para pemangku kepentingan dan lembaga pemerintah,” kata juru bicara Singapore GP, dikutip dari CNA.
Apabila kabut asap berdampak terhadap pelaksanaan acara, Singapore GP akan berkoordinasi dengan lembaga terkait sebelum mengambil keputusan mengenai kelanjutan balapan.
Belajar dari GP Singapura 2019
Ancaman kabut asap bukan kali pertama membayangi penyelenggaraan GP Singapura. Pada September 2019, kualitas udara di negara tersebut memburuk selama akhir pekan balapan akibat kabut asap dari kebakaran hutan di kawasan regional.
Meski kondisi kualitas udara memburuk, sekitar 268.000 penonton tetap menghadiri rangkaian GP Singapura saat itu.
Penyelenggara kemudian menyiagakan petugas pertolongan pertama serta menyediakan masker N95 bagi penonton yang membutuhkan.
Untuk menghadapi potensi serupa pada 2026, Singapore GP akan bekerja sama dengan Haze Task Force, gugus tugas lintas lembaga pemerintah yang dibentuk untuk menangani dampak kabut asap.
Gugus tugas tersebut melibatkan 28 lembaga, termasuk National Environment Agency, Kementerian Perdagangan dan Industri, serta Singapore Tourism Board.
Langkah penanganan akan disesuaikan dengan tingkat PSI dalam 24 jam serta pembacaan konsentrasi PM2.5 setiap jam.
Penonton, staf, pembalap, dan kru yang berada di area sirkuit akan mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi kualitas udara. Bantuan medis dan masker N95 juga akan disiapkan apabila diperlukan.
Keputusan Bergantung Kualitas Udara
Risiko tersebut muncul saat Singapura memasuki periode dengan potensi kabut asap lintas batas yang lebih tinggi.
Pemerintah setempat sebelumnya telah meningkatkan komunikasi kepada masyarakat dan meminta berbagai sektor untuk mempersiapkan langkah antisipasi apabila kualitas udara memburuk.
Selain penyelenggara GP Singapura, sejumlah acara luar ruang lainnya juga menyiapkan berbagai skenario, mulai dari perubahan format kegiatan, pemindahan lokasi, hingga pembatalan acara apabila kondisi kualitas udara dinilai tidak memungkinkan.
GP Singapura 2026 menjadi salah satu agenda olahraga internasional yang berlangsung di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi kabut asap lintas batas.
Dengan rencana kontingensi yang telah disiapkan, keputusan terkait pelaksanaan balapan nantinya akan bergantung pada perkembangan kualitas udara serta penilaian otoritas terkait menjelang berlangsungnya GP Singapura.