SELATPANJANG - Dengan adanya pandemi Covid-19 ini justru tidak lantas menghentikan kreativitas para pemuda untuk menghibur diri mereka sendiri maupun orang lain.
Tentunya kegiatan yang mereka lakukan ini akan berdampak positif terhadap kesehatan mental orang lain agar mereka mendapat hiburan di tengah anjuran untuk melakukan physical distancing.
Hal inilah yang dilakukan para pemuda yang tergabung kedalam kelompok seni Suryo Wijoyo Pesisir, Kampung Baru, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti.
Walaupun di tengah wabah virus corona yang banyak memakan kerugian bagi masyarakat, tidak menyudutkan semangat juang para pemuda ini untuk memperindah ruas jalan demi memanjakan mata pengguna jalan yang melintas.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemuda sanggar ini sepakat tidak meninggalkan tradisi yang sudah sejak dulu dilestarikan. Tradisi ini dikenal dengan lampu colok atau lampu hias yang dimulai pada malam 27 likur atau menyambut 27 Ramadan.
Pendiri Sanggar, Suryo Wijoyo Pesisir, Widianto mengatakan kegiatan yang mereka lakukan hanya semata-mata untuk membuat kemeriahan bagi masyarakat sekitar walaupun ditengah wabah yang membuat semua orang resah. Dikatakan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun.
"Saat masa-masa seperti inilah keberadaan pemuda serta kreatifitasnya sangat dibutuhkan. Tidak perlu menghasilkan maha karya besar yang sanggup membawa perubahan besar, namun justru karya sederhana yang kreatif dan inovatif, yang mampu menginspirasi dan menghibur banyak orang," kata Widianto.
Selain membuat gerbang lampu hias, sanggar ini juga menunjukkan kepedulian mereka dengan membagikan takjil kepada para pengguna jalan, dimana anggaran yang mereka gunakan berasal dari uang kas sanggar yang dikumpulkan setiap bulan.
"Ini kegiatan rutinitas kami setiap tahunnya, mengisi dan mengajak para pemuda untuk berbuat hal yang positif ditengah wabah corona dan bulan ramadhan, tentunya kegiatan ini kami lakukan dengan mengikuti anjuran dan protokol kesehatan. Sumber anggaran berasal dari uang kas yang dikumpulkan setiap bulan," ujar Widianto.
Widianto yang merupakan honorer di kantor kecamatan itu juga bercerita sanggar yang didirikan, selain untuk melestarikan kesenian Jawa khususnya juga untuk menghindari para pemuda dari pengaruh narkoba.
"Sanggar kesenian ini pertama kali terbentuk dan berawal dari sepotong kayu karet yang diukir menjadi sebuah topeng, sehingga dapat mewujudkan impian para adik-adik yang tergabung untuk melestarikan kesenian khususnya kesenian jawa di Kepulauan Meranti ini. Selain itu juga untuk menghindari mereka dari pengaruh negatif," pungkas Widi.
Penulis: Ali Imroen
Editor: Yusni Fatimah