KAMPAR - Kualitas udara di wilayah Kabupaten Kampar resmi menyentuh zona kuning atau kategori Tidak Sehat.
Ancaman infeksi saluran pernapasan kini mengintai warga setelah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat angka 106 pada Sabtu (5/9/2026) siang.
Biang keladinya adalah "bom waktu" kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut Jalan Madura, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang yang tak kunjung takluk meski telah memasuki hari ketiga.
Fokus pemadaman kini tidak lagi sekadar pada kobaran api yang terlihat, melainkan pada bara mematikan yang menjalar diam-diam di bawah permukaan tanah.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Kampar, Adi Candra Lukita memaparkan kondisi kritis di lapangan.
Meski secara visual luas lahan yang terbakar tertahan di angka 1,5 hektare, ancaman perluasan secara bawah tanah sangat nyata.
"Luas lahan yang terbakar masih sekitar 1,5 hektare. Tidak ada penambahan luas sampai hari ini," ungkap Adi Candra.
"Namun, api bisa saja merambat di bawah permukaan dan tidak terlihat karena lokasi berupa lahan gambut tebal," sambungnya.
Di tengah upaya memblokir pergerakan api bawah tanah, tim gabungan dihadapkan pada ironi klasik penanganan karhutla, krisis sumber air.
Kondisi parit-parit kanal yang mengering memaksa petugas mencari alternatif darurat agar mesin pompa tetap menyala.
Kasi Logistik BPBD Kampar, Edison secara gamblang mengakui kendala tersebut.
"Personel (terpaksa) memanfaatkan sumber air dari sumur warga," bebernya.
Fakta ini menunjukkan betapa krusialnya tantangan logistik yang dihadapi puluhan personel di lapangan.
Selain masalah air, anomali cuaca menjadi musuh tak kasat mata yang paling diwaspadai.
Kapolres Kampar, AKBP Boby Putra Ramadhan Sebayang, yang memantau langsung pergerakan 23 personel gabungan terdiri dari 10 Polri, 2 TNI dan 11 BPBD sejak Jumat (4/9/2026), menegaskan bahwa akses jalan bukanlah kendala utama.
Lokasi karhutla justru berada di dekat akses jalan umum. Tragedi sebenarnya adalah hembusan angin ekstrem yang bertiup tanpa pola.
"Arah angin yang terus berubah-ubah membuat api sulit dikendalikan dan berpotensi menyebar ke area yang belum terjamah," tegas AKBP Boby.
Untuk mencegah bencana ekologis yang lebih luas dan menekan kabut asap yang meracuni udara, tim gabungan kini mengubah taktik.
Petugas tidak lagi sekadar mengejar titik api, melainkan membangun sistem pertahanan berlapis melalui penyekatan dan pengeblokan.
Lahan gambut di sekitar titik api yang belum terbakar kini dibasahi secara masif (pendinginan) untuk memutus jalur rambat "api neraka" di bawah tanah Rimbo Panjang.