JAKARTA - Krisis iklim mendorong anak muda tidak sekadar membicarakan ancaman lingkungan, tetapi ikut menciptakan solusi.
Semangat itu terlihat dalam final Green LabZ 2026, program pembelajaran dan inkubasi yang digelar PINUS Indonesia untuk memperkuat kapasitas Youth Eco Leader.
Sebanyak 11 inisiatif dari berbagai daerah menghadirkan solusi berbasis teknologi, data, pengetahuan lokal hingga gerakan komunitas.
Gagasannya mencakup ketahanan air, perlindungan hutan adat, restorasi gambut, pemantauan deforestasi, pemulihan sungai serta konservasi pesisir dan mangrove.
“Masa depan lingkungan adalah milik generasi kami. Karena itu, kami tidak ingin hanya menjadi penerima dampak dari krisis ekologis, tetapi ikut berpartisipasi membentuk solusinya melalui inovasi, kerja nyata, dan kolaborasi,” ujar Cindy Yubawa, perwakilan Green LabZ/PINUS Indonesia, Senin (24/8/2026).
Juara pertama diraih Puan in Action melalui ARUSUARA dari Surabaya. Inisiatif ini mengembangkan kepemimpinan perempuan muda sekaligus ketahanan air perkotaan melalui pemanfaatan air hujan (rainwater harvesting) dan teknologi elektrolisis.
KOPHI Yogya melalui ECOCITY DIY menjadi juara kedua dengan media edukasi berbasis board game untuk membantu generasi muda memahami pengambilan keputusan terkait krisis air dan Ruang Terbuka Hijau.
Sementara Inisiatif Hijau melalui Sumber Agung Carbon Partnership meraih juara ketiga dengan pendekatan kemitraan masyarakat untuk restorasi gambut dan pengelolaan karbon di Kalimantan Barat.
Delapan finalis lainnya mengembangkan solusi beragam. Di antaranya CLIMAVORA untuk isu keadilan iklim, Youth Eco Data Hub untuk pemantauan dampak ekologis, Betung Lestari untuk perlindungan hutan adat Melayu Petalangan di Riau, hingga HUTANTARA yang memanfaatkan data satelit untuk edukasi pemantauan deforestasi.
PINUS Indonesia menilai inovasi anak muda tidak boleh berhenti sebagai proyek atau kompetisi. Dukungan kebijakan dan pembiayaan diperlukan agar gagasan tersebut berkembang dan memberi dampak lebih luas.
“Inovasi anak muda membutuhkan ekosistem agar dapat tumbuh dan memberikan dampak,” kata Project Manager PINUS Indonesia, Such Ferdian.
Untuk itu, PINUS menghubungkan Green LabZ dengan Kaukus Parlemen Hijau Daerah (KPHD) dan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pendanaan Ekologis (KMS-PE).
Keduanya menjadi jembatan antara inovasi pemuda, kebijakan daerah dan pendanaan ekologis, termasuk melalui skema Ecological Fiscal Transfer (EFT).
Green LabZ 2026 menunjukkan bahwa solusi menghadapi krisis iklim tidak hanya lahir dari laboratorium atau lembaga riset.
Dari air hujan hingga hutan adat, anak muda di berbagai daerah mulai membuktikan bahwa inovasi lingkungan dapat tumbuh dari persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.(rilis)