NABIRE - Deretan truk berwarna kuning dan biru itu terparkir mengitari gudang Perum Bulog di Nabire, Kamis siang, 14 Mei 2026. Sebagian bak truk sudah tertutup terpal rapat. Sebagian lain masih dipenuhi aktivitas buruh yang memanggul karung-karung beras ke bagian belakang kendaraan.
Matahari Nabire, ibu kota Provinsi Papua Tengah, siang itu terasa terik, tetapi suasana gudang belum benar-benar tenang. Hari itu merupakan distribusi terakhir bantuan pangan periode Februari–Maret 2026 untuk wilayah Kabupaten Nabire.
Di sebuah gardu kecil pada sudut area gudang, beberapa sopir duduk beristirahat, menunggu jadwal keberangkatan dari koordinator.
Bagi kebanyakan orang, bantuan pangan mungkin hanya angka dalam laporan distribusi: sekian ton beras, sekian liter minyak goreng, sekian ribu penerima manfaat.
Namun, di Papua Tengah, bantuan pangan adalah cerita tentang perjalanan panjang, rasa takut, pegunungan sunyi, dan orang-orang yang mempertaruhkan keselamatan agar beras tetap tiba di tangan warga.
Tobias, salah satu sopir truk pengangkut bantuan pangan, mengingat betul bagaimana nyalinya sempat ciut saat mengantar beras ke salah satu distrik di Kabupaten Dogiyai.
Perjalanan menuju Dogiyai sudah cukup melelahkan. Dari Nabire, kendaraan harus menempuh sekitar enam, hingga tujuh jam perjalanan melalui jalur Trans Nabire–Paniai.
Konvoi puluhan truk harus membelah jalanan pegunungan yang penuh tanjakan curam, turunan tajam, dan tikungan panjang yang mengular di antara hutan hujan tropis Papua.
Di banyak titik, sinyal telepon hilang sama sekali, yang tersisa hanya suara mesin kendaraan dan hutan yang sunyi. Namun, medan berat bukan hal yang paling membuat Tobias takut.
"Yang bikin takut itu kalau sudah masuk daerah rawan," katanya, pelan.
Saat itu, hanya satu truk bantuan yang masuk ke distrik tujuan. Truk lain berpencar ke distrik berbeda.
Bantuan pangan biasanya diturunkan di kantor distrik, dengan dibantu masyarakat setempat. Namun, hari itu, kepala distrik memberi tahu bahwa mereka tidak hanya dipantau warga.
Ada beberapa anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang ikut mengawasi penurunan bantuan.
"Mereka tidak bawa senjata api terbuka, tapi ada yang pegang parang," ujarnya.
Tobias mengaku sempat tegang. Di wilayah yang belum sepenuhnya aman, rasa takut datang secara alami.
Meskipun demikian, ia berusaha tetap tenang. Baginya, beras dan minyak goreng yang dibawa bukan untuk kepentingan politik siapa pun. "Itu untuk masyarakat. Orang-orang juga butuh makan," katanya.
Cerita serupa dari Tobias dan rekan-rekannya sudah akrab didengar Arif R Effendi, koordinator transporter pihak ketiga untuk distribusi bantuan pangan.
Dari teras kantor gudang ia menjelaskan bahwa wilayah kerja Bulog Nabire memiliki tantangan yang jauh berbeda dibanding daerah lain di Indonesia.
Bulog Nabire melayani distribusi bantuan pangan untuk lima kabupaten di Papua Tengah, yaitu Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya. Masing-masing memiliki kesulitannya sendiri.
Di Nabire, tantangannya adalah jarak dan wilayah kepulauan. Beberapa distrik, seperti Wapoga, Moora, Teluk Umar, hingga Yaur, hanya bisa dijangkau menggunakan perahu melalui jalur laut. Namun, tantangan paling berat berada di Dogiyai.
Sebagai "jenderal" yang mengatur semua pengiriman bantuan pangan, Arif paham betul pengamanan harus menjadi prioritas utama.
"Kalau lewat Kota Dogiyai, terutama dari Ugida sampai Uga Puga, kami wajib minta pengawalan aparat," kata dia.
Dogiyai memang menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerawanan tinggi di Papua Tengah. Konflik keamanan dalam beberapa waktu terakhir membuat situasi di wilayah itu belum sepenuhnya stabil.
Pada akhir Maret 2026, seorang anggota polisi berinisial JE ditemukan meninggal dunia di Distrik Kamuu. Peristiwa itu memicu eskalasi konflik yang meluas.
Warga sempat mengungsi, rumah dan kendaraan dilaporkan dibakar, aktivitas ekonomi lumpuh, dan sekolah-sekolah berhenti beraktivitas.