DEPOK - Kebutuhan minyak dan gas bumi (migas) Indonesia diproyeksikan masih meningkat signifikan hingga 2030, meskipun pemerintah terus mendorong agenda transisi energi.
Tenaga Ahli Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Mohammad Kemal mengatakan proyeksi tersebut tercermin dalam skenario permintaan tinggi (high demand scenario) pada Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Menurut Kemal, kebutuhan minyak nasional bahkan diproyeksikan meningkat 124 persen pada 2030. Sementara itu, kebutuhan gas yang diposisikan sebagai salah satu energi transisi juga diperkirakan meningkat 143 persen dibandingkan baseline yang digunakan dalam dokumen KEN.
"Dalam high demand scenario, kebutuhan minyak pada tahun 2030 diproyeksikan masih meningkat 124%, sedangkan untuk kebutuhan gas yang memang dianggap sebagai energi transisi pada proses transisi energi ini masih meningkat 143% dibandingkan baseline yang digunakan dalam dokumen KEN tersebut," ucap Kemal di Kampus Politeknik Negeri Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Sebagai gambaran, konsumsi atau kebutuhan minyak mentah nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan produksi minyak mentah berada di kisaran 600.000 bph. Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta bph.
Kemal mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa transisi energi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap migas. Sebaliknya, kebutuhan migas diperkirakan masih meningkat seiring dengan arah pembangunan ekonomi nasional.
Ia menuturkan, kebijakan pembangunan nasional juga menempatkan ketahanan dan kemandirian energi sebagai bagian penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia.
“Jadi kalau kita melihat kondisi dunia saat ini menghadapi lingkungan yang sangat dinamis dan menantang. Kami melihatnya utamanya ada dua faktor yang memengaruhi, yaitu yang pertama mitigasi perubahan iklim dan perubahan dari polaritas dunia,” ujar Kemal.
Menurutnya, tantangan transisi energi bukan hanya menyangkut upaya menekan emisi karbon, tetapi juga harus memperhatikan keamanan pasokan dan keterjangkauan energi.
“Karena itu bagi kami diskusi mengenai transisi energi harus dilakukan secara keseluruhan dari trilema energi, yaitu energy security, affordability, dan sekaligus sustainability. Ketiganya ini harus berjalan bersama,” katanya.
SKK Migas Dorong Peningkatan Produksi
Dengan kebutuhan migas yang diproyeksikan terus meningkat, SKK Migas menilai peningkatan produksi menjadi salah satu pekerjaan penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Kemal mengatakan Indonesia masih memiliki potensi migas yang besar, meskipun industri hulu migas nasional telah memasuki fase yang relatif matang.
“Artinya, Indonesia masih memiliki potensi untuk memenuhi tantangan peningkatan produksi, namun kita harus mampu mengubah resource menjadi reserve, reserve menjadi production, dan production menjadi value bagi negara Indonesia. Inilah yang akan menjadi pekerjaan besar kita bersama,” tuturnya.
SKK Migas sebelumnya telah menyusun rencana strategis 2025-2035 untuk meningkatkan produksi migas nasional. Dalam rencana tersebut, SKK Migas menargetkan puncak produksi mencapai 2,6 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd).
Produksi bahkan berpotensi mencapai lebih dari 3 juta boepd apabila kondisi makroekonomi dan regulasi mendukung.
“Nah, untuk mencapai target tersebut, kita membutuhkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari high impact explorations, accelerating resource to production, full-scale EOR, dan sustainable productions yang semuanya didukung oleh collaborative partnerships, competitive supply chain, digital excellence, dan strengthening people and process," jelas Kemal.
Di sisi lain, upaya meningkatkan produksi menghadapi sejumlah tantangan. SKK Migas mencatat lapangan migas yang ada saat ini semakin matang sehingga penurunan produktivitas sumur dan decline rate menjadi persoalan yang perlu diantisipasi.
Kemal menambahkan tantangan juga muncul dari sisi proyek pengembangan migas, terutama akibat inflasi biaya dan keterbatasan kontraktor.
Untuk mendukung peningkatan produksi, SKK Migas juga mengandalkan eksplorasi dan pengembangan sumber daya migas yang belum termanfaatkan.
Masih Ada Potensi dari 128 Cekungan
Kemal mengatakan Indonesia memiliki 128 cekungan yang berpotensi mengandung minyak. Namun, baru sebagian cekungan yang telah memasuki tahap produksi.
“Dari sisi sumber daya, Indonesia juga masih memiliki potensi migas yang besar. Kita ada 128 cekungan yang mungkin terdapat minyak. Dari sana yang sudah diproduksikan baru 20 cekungan. Sekitar 65 cekungan masih belum cukup dieksplorasi,” ucapnya.
Menurut Kemal, pemerintah juga terus membuka peluang investasi melalui penawaran wilayah kerja (WK) migas baru.
SKK Migas juga mendorong agar penemuan migas tidak berhenti pada tahap discovery, tetapi dilanjutkan hingga dapat memasuki tahap produksi.
“Kita harus membawa discovery tersebut melalui proses appraisal, development, FID, construction, hingga akhirnya onstream. Karena ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak yang kita temukan, tapi berapa banyak yang akhirnya kita produksikan,” tutur Kemal.