PEKANBARU – Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus dalam Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang digelar Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Universitas Riau (Unri) di Ruang Teater Kampar, Gedung Integrated Classroom Universitas Riau, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Akselerasi Kapasitas Publik dalam Pemahaman KEN dan Isu Strategis serta Cadangan Penyangga Energi” tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja DEN di Provinsi Riau.
Sosialisasi dipimpin Anggota DEN, Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari DEN, BRIN, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Universitas Riau, Dinas ESDM Provinsi Riau serta PLN Unit Induk Distribusi Riau dan Kepulauan Riau.
Unggul mengatakan, DEN saat ini mendorong percepatan transisi energi melalui pengembangan energi ramah lingkungan, termasuk kesiapan produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
"Arah kebijakan energi baru yaitu pemerintah saat ini tengah serius menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan E50 (Etanol) hingga skema coal-to-liquid (CTL/minyak dari batu bara) atas arahan presiden demi mempercepat proses substitusi bensin komersial," ungkapnya.
Menurutnya, Kebijakan Energi Nasional memproyeksikan peningkatan konsumsi listrik dan bahan bakar nabati untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mengejar target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Dalam arah kebijakan tersebut, pemerintah mendorong pengembangan E50 untuk memperluas bauran etanol dalam bensin. Pengembangan itu juga mencakup penyusunan roadmap pasokan bahan baku seperti tebu, singkong, jagung dan sorgum serta pengaturan proses pencampuran bahan bakar.
Selain itu, pengembangan biohidrokarbon juga menjadi bagian dari strategi melalui produk seperti green gasoline, Sustainable Aviation Fuel (SAF), Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), serta bahan bakar berbasis sawit yang dapat berasal dari Crude Palm Oil (CPO), Used Cooking Oil (UCO) dan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD).
Pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui proses hidrodeoksigenasi dan upgrading untuk menghasilkan bahan bakar yang dapat digunakan sebagai alternatif energi fosil.
Strategi lainnya adalah pengembangan Coal to Liquid (CTL), yakni teknologi untuk menghasilkan bahan bakar cair dari batu bara melalui proses gasifikasi, pembentukan syngas, kemudian dilanjutkan dengan teknologi seperti Fischer-Tropsch atau Methanol-to-Gasoline (MTG).
Pengembangan berbagai sumber energi tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak, memperkuat cadangan energi serta meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi sumber daya dalam negeri.
Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Provinsi Riau, Ismon Diondo Simatupang, mengatakan Riau memiliki potensi EBT yang cukup besar untuk dikembangkan, terutama dari sektor industri kelapa sawit.
"Bisa dibilang kita di Riau ini untuk sumber daya EBT sangat potensial. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan di Riau adalah pemanfaatan limbah industri kelapa sawit, seperti biomassa dan biogas, menjadi sumber energi," katanya.
Ia menyebutkan, bauran energi daerah Provinsi Riau pada 2025 untuk EBT telah mencapai 27,89 persen. Sementara itu, minyak bumi masih menjadi sumber energi dengan porsi terbesar, yakni 32,84 persen, disusul batu bara 23,03 persen dan gas bumi 16,25 persen.
Potensi tersebut dinilai dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi daerah, termasuk melalui pemanfaatan limbah industri dan pengembangan pembangkit berbasis energi terbarukan.
Di sisi lain, Senior Manager Distribusi PLN Unit Induk Distribusi Riau dan Kepulauan Riau, Edo Adriyanto, mengatakan PLN juga memiliki program menuju zero emission atau emisi nol bersih.
Namun, penerapan program tersebut masih menghadapi tantangan karena PLN perlu memastikan kecukupan pasokan dan keandalan daya listrik pada sistem kelistrikan Riau.
Pengembangan EBT di Riau pada akhirnya diharapkan tidak hanya mendukung target transisi energi nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi daerah. Pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan juga dinilai dapat membuka peluang hilirisasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.