KUANSING – Masyarakat Desa Rambahan, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi mulai merasakan manfaat nyata dari program perhutanan sosial yang dijalankan melalui kolaborasi APRIL Group, RECOFTC, dan PT Nusa Prima Manunggal (NPM). Program tersebut tidak hanya menjaga kelestarian hutan, tetapi juga berhasil membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang didampingi RECOFTC, warga mengembangkan kawasan Hutan Kemasyarakatan menjadi lahan agroforestri produktif yang mampu menghasilkan berbagai komoditas pertanian dan buah-buahan bernilai ekonomi.
Ketua Hutan Kemasyarakatan (HKm) Rambahan, Rizal, mengatakan keberhasilan program ini tidak terlepas dari kekompakan anggota kelompok dalam mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan.
"Kami terus berupaya agar hutan ini tidak hanya lestari secara ekologi, tetapi juga bisa memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat," kata Rizal, Selasa (23/6/2026).

Program yang mulai dijalankan sejak 2022 tersebut mendapat dukungan penuh dari masyarakat dan kalangan pemuda desa. Salah satunya Wendry, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lancang Kuning (Unilak), yang memilih kembali ke kampung halamannya untuk mengembangkan potensi ekonomi desa melalui perhutanan sosial. Wendy kini dipercaya sebagai Ketua KUPS Rambahan.
Keberhasilan program ini juga didukung APRIL Group bersama PT NPM dan RECOFTC yang memberikan bantuan pendanaan, pendampingan lapangan, serta pelatihan bagi masyarakat. Selain itu, kelompok tani juga mendapatkan pendampingan dari lembaga eksternal untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola lahan secara lebih modern dan terukur.
Total luas Hutan Kemasyarakatan di Desa Rambahan mencapai 350 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 5,7 hektare dimanfaatkan sebagai kawasan agroforestri terpadu yang dikelola masyarakat.
Program ini memberikan manfaat bagi 175 kepala keluarga. Sementara untuk pengelolaan lahan agroforestri secara langsung dilakukan oleh 17 anggota aktif yang seluruhnya merupakan warga asli Desa Rambahan dengan latar belakang sebagai petani karet dan kelapa sawit.
Melalui sistem agroforestri, masyarakat mulai mengembangkan berbagai tanaman buah unggulan seperti durian, mangga, rambutan, jengkol, petai, dan nangka. Saat ini pohon nangka telah memasuki masa panen perdana.
"Kami sengaja memadukan tanaman buah berumur panjang dengan tanaman semusim agar ada kepastian pendapatan harian sambil menunggu pohon utama panen," ujar Wendry.
Selain tanaman buah, lahan juga dimanfaatkan untuk budidaya komoditas hortikultura seperti kacang tanah, jagung, dan cabai. Hasilnya cukup menggembirakan. Panen kacang tanah pernah mencapai sekitar 200 kilogram, sementara budidaya cabai pada delapan bedengan sepanjang lima meter mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp2 juta saat musim kemarau.
Tingginya permintaan pasar lokal membuat hasil panen kelompok selalu terserap habis. Jagung dan kacang tanah menjadi komoditas yang paling diminati masyarakat di tingkat kecamatan.
Melihat peluang tersebut, kelompok pengelola berencana melakukan studi banding ke Sumatera Barat untuk mempelajari pengolahan produk turunan yang memiliki nilai tambah, seperti rendang kacang dan keripik nangka.
Meski demikian, perjalanan mengembangkan agroforestri tidak lepas dari tantangan. Serangan satwa liar seperti beruk dan babi hutan masih menjadi kendala karena kerap merusak tanaman dan memakan hasil panen warga.
"Kami memegang teguh prinsip pelestarian dari awal, sehingga satwa liar yang memakan hasil panen pantang untuk disakiti apalagi dibunuh," tegas Wendry.
Menurutnya, mengelola agroforestri memang membutuhkan perhatian dan perawatan lebih intensif dibandingkan kebun sawit atau karet. Namun, masyarakat tetap optimistis karena prospek ekonomi yang ditawarkan sangat menjanjikan.
Berdasarkan perhitungan kelompok, ketika seluruh tanaman buah mulai berproduksi secara maksimal, pendapatan yang diperoleh diperkirakan mampu melampaui hasil dari kebun sawit maupun karet. Kondisi itu menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mempertahankan dan mengembangkan program perhutanan sosial yang ramah lingkungan tersebut.
"Hutan yang terjaga dan masyarakat yang sejahtera bisa berjalan beriringan. Itulah yang sedang kami buktikan di Desa Rambahan," tutup Wendry.