Oleh: Andy Indrayanto
Thayeb Mohammad Gobel adalah salah satu tokoh kunci dalam sejarah lahirnya industri elektronik nasional. Dari Gobel Group yang ia rintis, bukan hanya perusahaan yang tumbuh, tetapi juga fondasi industri elektronik Indonesia serta nilai kepemimpinan yang terus diwariskan lintas generasi.
Merintis Industri Elektronik Berbasis Kemandirian Nasional
Siang yang gerah di Jakarta pada pertengahan 1950-an. Seorang pemuda melangkah menuju Istana Negara dengan membawa sebuah gagasan yang terdengar sederhana: membuat radio. Namun radio yang ada dalam pikirannya bukan sekadar perangkat elektronik.
Ia membayangkan sebuah alat yang mampu menjembatani jarak ribuan kilometer, menyatukan suara Indonesia dari pusat pemerintahan hingga pelosok negeri yang belum tersentuh pembangunan.
Pemuda itu adalah Thayeb Mohammad Gobel. Di tengah Indonesia yang baru merdeka dan masih bergantung pada berbagai produk impor, ia melihat teknologi bukan semata-mata sebagai barang dagangan, melainkan sebagai alat untuk memperkuat persatuan dan membangun kemandirian bangsa.
Kota Jakarta yang panas siang itu, seolah tak terasa karena yang memenuhi benak Gobel muda hanyalah satu keyakinan: Indonesia harus mampu membuat radio buatan anak bangsa sendiri. Saat menghadap Presiden Pertama RI, Soekarno, diutarakannya rencana usahanya yang tengah mengembangkan radio transistor merek Tjawang.
Soekarno memberikan apresiasi atas gagasan tersebut. Bagi Gobel, itu bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan dorongan bahwa bangsa ini harus mampu memproduksi teknologi sendiri.
Dari semangat itu, ia mendirikan usaha yang kemudian berkembang menjadi Gobel Group. Visi yang diusungnya melampaui keuntungan ekonomi: membuka lapangan kerja, membangun keterampilan, dan menumbuhkan industri nasional yang mandiri.
Atas kontribusinya, pemerintah Indonesia menganugerahkan Satyalencana Pembangunan pada 25 Februari 1972 sebagai pengakuan atas perannya dalam membangun industri elektronik nasional.
Visi Besar Seorang Anak Bangsa
Bagi Thayeb Gobel, radio pada era 1950-an bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jembatan persatuan bangsa. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan ancaman disintegrasi, radio menjadi sarana penting memperkuat kebangsaan.
Ia memahami bahwa teknologi harus menjawab kebutuhan bangsa, bukan sekadar memenuhi pasar. Karena itu, industri elektronik ia pandang sebagai instrumen pembangunan nasional.
Lebih jauh, ia meyakini bahwa kemerdekaan politik harus diikuti kemandirian ekonomi dan teknologi. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar, tetapi harus mampu menciptakan dan mengembangkan teknologinya sendiri.
Dari keyakinan itu, Gobel membangun industri yang tidak hanya mencetak produk, tetapi juga manusia: tenaga kerja terampil, budaya kerja modern, dan etos industri nasional. Di sinilah ia bukan sekadar pengusaha, tetapi nation builder—pembangun bangsa melalui industri.
Kepemimpinan yang Berpusat pada Manusia
Bagi Thayeb Mohammad Gobel, ukuran keberhasilan perusahaan bukan hanya produksi atau laba, tetapi manusia yang dibentuk di dalamnya.
Prinsip itu terangkum dalam filosofi Make People Before Product: membangun manusia sebelum membangun produk. Mesin bisa dibeli, teknologi bisa dipelajari, tetapi karakter dan integritas harus dibentuk.
Karena itu, sejak awal Gobel menekankan pembinaan karyawan melalui pelatihan teknis, disiplin, etika, dan pengembangan karakter. Filosofi ini kemudian menjadi budaya perusahaan yang menekankan kerja sama, kejujuran, keadilan, dan kesopanan sebagai prinsip dasar.
Gobel dikenal dekat dengan karyawan dan sering turun langsung ke lapangan. Ia tidak mencari siapa yang salah, tetapi apa yang perlu diperbaiki. Baginya, keberhasilan perusahaan adalah kerja kolektif, bukan individu. Keputusan bisnis pun selalu mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang, bukan keuntungan sesaat.
Dalam pandangannya, perusahaan harus menjadi tempat tumbuh manusia. Laba bukan tujuan akhir, melainkan hasil dari manfaat yang diberikan kepada karyawan, konsumen, dan masyarakat.
Filosofi Pohon Pisang: Warisan Nilai yang Tak Pernah Putus
Dari cara pandang itu lahir Filosofi Pohon Pisang. Sebagaimana pohon pisang yang seluruh bagiannya memberi manfaat, perusahaan pun harus memberi nilai bagi kehidupan. Lebih dari itu, pohon pisang tidak berhenti pada satu siklus hidup. Ia menumbuhkan tunas baru setelah batang utamanya tumbang. Inilah simbol keberlanjutan.
Bagi Gobel, pemimpin bukan hanya meninggalkan perusahaan, tetapi juga nilai, karakter, dan budaya yang terus hidup setelah dirinya tiada. Karena itu, keberhasilan tidak diukur dari kekayaan atau jabatan, melainkan dari nilai yang tetap bertahan lintas generasi.
Lebih dari setengah abad kemudian, filosofi ini tetap relevan. Di tengah perubahan zaman, nilai menjadi kompas yang menjaga arah perusahaan.
Filosofi Pohon Pisang di Era Kecerdasan Buatan
Dunia hari ini telah berubah drastis. Ia sangat berbeda dengan era saat Thayeb Mohammad Gobel merintis usaha radionya pada 1950-an. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan digitalisasi industri membuat banyak pekerjaan mulai digantikan mesin, sementara keterampilan manusia terus dituntut berubah. Dampak perubahan ini tidak hanya bersifat teknologi, tetapi juga menyentuh struktur ketenagakerjaan dan masa depan pembangunan manusia.
Pertanyaan pun muncul: jika mesin semakin pintar, apakah manusia akan tergeser? Di sinilah relevansi pemikiran Gobel kembali terasa. Prinsip Make People Before Product menegaskan bahwa teknologi tanpa manusia berintegritas tidak memiliki arah.
Keberhasilan bangsa tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Dan filosofi Pohon Pisang menjadi semakin relevan: pembangunan tidak cukup menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi harus menyiapkan generasi penerus yang kuat dan berkarakter. Relevansi ini menjadi semakin nyata ketika dilihat dalam konteks kondisi demografis Indonesia saat ini.
Apalagi dalam era bonus demografi, hal ini menjadi krusial saat Indonesia membutuhkan manusia yang adaptif, kreatif, dan berintegritas untuk menggerakkan industri masa depan. Teknologi dapat dibeli, tetapi manusia yang mampu mengembangkannya harus dibentuk melalui pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan. Karena pada akhirnya, generasi muda adalah tunas baru bangsa dan penentu arah masa depan Indonesia.
Warisan yang Masih Hidup
Nilai yang ditanamkan Thayeb Mohammad Gobel menjadi bagian dari budaya Gobel Group yakni tumbuh bersama masyarakat, karyawan, dan bangsa.
Ketika ia wafat pada 1984, kepemimpinan diteruskan oleh Rachmat Gobel, namun yang diwariskan bukan hanya perusahaan, melainkan nilai dan filosofi.
Saat krisis 1998, Gobel Group tetap bertahan berkat budaya kerja yang dibangun di atas kepercayaan, integritas, dan kerja sama jangka panjang.
Rachmat Gobel menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan adalah hasil kerja kolektif, sejalan dengan nilai yang diwariskan ayahnya.
"Saya kagum dan bangga, sekaligus terharu. Hal inilah yang diharapkan oleh almarhum Bapak Thayeb Mohammad Gobel saat merintis perusahaan ini," kenang Rachmat Gobel, seperti dikutip https://rm.id/.
Hingga kini, Gobel Group berkembang di berbagai sektor dengan ribuan karyawan, namun tetap menjadikan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama.
Saat ini, lebih dari empat dekade setelah kepergiannya, Thayeb Mohammad Gobel dikenang bukan karena pabrik atau merek yang ia bangun, tetapi karena nilai yang ia tinggalkan. Seperti pohon pisang yang terus menumbuhkan tunas baru, warisan terpentingnya adalah manusia dan nilai yang terus hidup lintas generasi.
Dan di tengah era teknologi yang semakin canggih, pesan itu tetap sama: masa depan bangsa tidak ditentukan oleh mesin yang paling pintar, tetapi oleh manusia yang paling berkarakter. (*)