JAMBI — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa PT PLN (Persero) akan mengambil alih pembangunan proyek pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Kepulauan Riau. Sebelumnya, proyek ini ditugaskan kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sejak 2016, namun dinilai mengalami keterlambatan.
"Karena sebagian besar infrastrukturnya dari Pulau Pemping ke Batam telah dibangun oleh PLN, maka kita integrasikan saja pembangunannya dan diselesaikan oleh PLN," ujar Yuliot dalam keterangan pers di Jambi, Rabu (16/4/2025).
Menurut Yuliot, PLN akan mulai mengerjakan proyek pipa tersebut pada Mei atau Juni 2025, dengan target penyelesaian selama enam bulan.
"Panjang pipanya sekitar 4 kilometer, jadi secara teknis tidak terlalu kompleks. Kami harapkan proyek ini dapat rampung pada akhir tahun 2025," katanya.
Yuliot juga membenarkan bahwa pengalihan proyek ini berkaitan dengan pembatalan perjanjian jual beli gas (PJBG) dari Lapangan Mako, Blok Duyung, di lepas pantai Cekungan Natuna Barat. PGN yang sebelumnya menjadi pembeli gas, menerima surat penghentian kontrak (Notice of Termination of Gas Sales Agreement/GSA) dari pihak penjual pada 12 April 2025.
Pihak penjual terdiri dari konsorsium perusahaan migas, yakni West Natuna Energy Ltd, Empyrean Energy Plc, dan Coro Energy Duyung (Singapore) Pte. Ltd.. Setelah pembatalan tersebut, kontrak dialihkan kepada subholding PLN, yaitu PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).
Yuliot menegaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, mengingat gas dari Lapangan Mako akan digunakan langsung untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN.
"Infrastrukturnya dibangun oleh PLN, gasnya juga untuk kebutuhan PLN. Maka lebih efisien jika PLN langsung yang mengelola, tanpa perlu melibatkan pihak perantara," ujarnya.
Dengan pengalihan ini, pemerintah berharap proses pembangunan dan distribusi gas untuk pembangkit listrik dapat berjalan lebih cepat, terintegrasi, dan efisien, seperti yang dilansir dari bisnis.(*)