PEKANBARU - Suara alat tenun terdengar nyaring dari rumah di Jalan Dahlia Gang Jati, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru. Di dalam rumah, terlihat seorang gadis berjilbab abu-abu sedang menenun kain.
Gadis itu bernama Afifah Safni (21 tahun) yang akrab disapa Fifah. Ia merupakan anak dari Tengku Syarifah Nuril Zahara, pemilik Candafa Tekat Tiga Dara. Usaha kreatif yang berfokus membuat wastra nusantara atau kain tradisional khas Melayu Riau.
Fifah senang menenun atau membatik karena terinspirasi dari ibunya, Tengku Syarifah. Ibunya sudah menjadi pengrajin tenun dan sulam sejak masih muda.
Saat ditemui, Tengku Syarifah menceritakan usahanya itu sudah dirintis sejak tahun 2006. Dimulai dengan membuat kain tekat atau sulaman, kini berkembang dengan memproduksi kain tenun dan batik dengan corak khas Riau.
"Saya dari dulu memang hobi menenun dan membatik. Keterusan sampai sekarang dan alhamdulillah menjadi usaha," kata Syarifah, Rabu (26/2/2025).
Yang membuat dirinya semangat menggeluti usaha kreatif ini, karena respon pasar sangat baik. Apalagi kain produksinya memiliki ciri khas Riau. Selain juga kualitas bahannya yang baik, bahkan Syarifah berani memberikan garansi ke pembeli jika produknya rusak atau tidak sesuai.
"Kalau ada produk kami yang tidak rapi, akan kita jahit ulang. Kalau ada yang luntur, kita berani ganti dengan yang baru," sebut Syarifah. Baginya kepuasan konsumen paling utama.
Maka tidak heran, karya-karya Candafa Tekat Tiga Dara sering ikut serta dalam pameran yang diadakan pemerintah daerah hingga swasta. Sehingga pasarnya lebih luas, pembelinya juga bukan hanya dari Riau, tetapi Sumatera Utara (Sumut), Kalimantan, Jakarta, bahkan ke luar negeri Malaysia.
Untuk harga produk souvenir, mulai dari Rp 10 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Sedangkan untuk kaiin batik dihargai dari Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung jenis kain dan motifnya. Sedangkan untuk hiasan dinding tekat atau sulaman, bisa dibanderol hingga jutaan rupiah.
Pencapaian saat ini, bagi Syarifah tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Selain pemerintah daerah, dukungan Bank Rakyat Indonesia (BRI) RO Pekanbaru turut andil membuat Candafa Tekat Tiga Dara naik kelas.
Karena ibu tiga anak ini pernah terbentur masalah permodalan, terutama untuk membeli bahan yang akan dibutuhkan untuk membuat tenun dan batik. Kemudian Syarifah memberanikan diri untuk mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pinjaman ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) Regional Office Pekanbaru.
"Kita pernah pinjam KUR BRI sebesar Rp 25 juta, untuk dipakai membeli bahan kain. Alhamdulillah pinjamannya tidak dipersulit," sebutnya.
Selain KUR, BRI juga memfasilitasi Tekat Tiga untuk mengikuti pelatihan-pelatihan. Serta memberikan peralatan penunjang transksi digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
"BRI sudah banyak bantu kami. Difasilitasi pelatihan, diberi mesin tenun serta pembiayaan dana KUR. Semua ini tentu sangat berarti bagi kami, karena dapat meningkatkan jumlah produksi maupun untuk memperluas pemasaran," sebut Syarifah.
Ia berharap BRI juga bisa membantu untuk menggaet generasi muda Riau agar mau terlibat melestarikan wastra nusantara atau kain tradisional Riau. Apalagi fesyen saat ini juga banyak memadukan tradisional dengan modern.
Sementara itu, Pimpinan Cabang BRI Lancang Kuning, Filipus Evan Adinda, mengatakan UMKM Tekat Tiga Dara termasuk binaan yang sukses naik kelas. Apalagi bisa terus berkembang berkat dukungan pembiayaan dan pelatihan yang disediakan BRI.
"Kami punya berbagai program dan penghargaan bagi UMKM yang berhasil berkembang. Bukan itu saja, BRI juga mendukung mereka untuk berpartisipasi dalam pameran dan berbagai inisiatif lainnya," sebut Filipus Evan.
Pihaknya berkomitmen untuk terus membantu UMKM di Riau, khususnya Kota Pekanbaru agar bisa mengembangkan usaha dengan memanfaatkan berbagai fasilitas dan bantuan yang tersedia. BRI tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga dukungan untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pemasaran, dan pengembangan usaha lebih luas lagi.
Penulis: Riki