DUMAI – Berawal dari kegelisahan karena Kota Dumai belum memiliki batik khas daerah, Leni Rahmaini menggerakkan warga untuk melahirkan identitas wastra yang berakar pada kekayaan sejarah dan budaya Melayu pesisir. Kini, Batik Dumai tak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga menembus panggung peragaan busana internasional.
Perjalanan itu bermula dari sebuah pertemuan lintas daerah di Pekanbaru beberapa tahun silam. Saat perwakilan kabupaten dan kota lain di Riau memamerkan batik khas daerah masing-masing, Dumai belum memiliki wastra yang dapat diperkenalkan sebagai identitas budaya.
Bagi Leni Rahmaini, yang juga menjabat Ketua TP PKK Kota Dumai, momen tersebut menjadi titik balik. Kota yang memiliki kekayaan cerita rakyat, termasuk legenda Putri Tujuh, dinilainya memiliki potensi besar untuk melahirkan karya batik dengan karakter tersendiri.
Kegelisahan itu kemudian diwujudkan melalui langkah nyata. Pada 2024, Leni merangkul 15 warga setempat, yang didominasi ibu rumah tangga, untuk mengembangkan Batik Dumai melalui Galeri Batik Dumai di Jalan Putri Tujuh, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur.
“Saat melihat daerah lain bangga memamerkan batik mereka, ada dorongan kuat di hati saya bahwa Dumai tidak boleh tinggal diam. Kita punya sejarah dan legenda Putri Tujuh yang begitu indah. Saya percaya, jika ibu-ibu di sini diberi kesempatan dan pelatihan yang tepat, jemari mereka pasti mampu menari di atas kain untuk melahirkan karya hebat yang mengangkat martabat,” kenangnya, Jumat (16/10/2026).
Memulai usaha batik bukan perkara mudah bagi para warga yang kemudian menyebut diri mereka sebagai batikers. Sebagian besar belum pernah menggunakan canting, mengenal teknik pewarnaan, maupun memahami proses pengolahan kain batik.
Namun, keterbatasan pengalaman tidak menyurutkan semangat mereka. Para perajin mempelajari setiap tahapan produksi, mulai dari pemilihan bahan baku, pembuatan pola, penerapan motif melalui teknik tulis maupun cap, peracikan warna, hingga penguncian warna agar tidak mudah luntur.
Proses dilanjutkan dengan pelorotan lilin, perendaman, penjemuran, dan pengemasan. Setiap tahap membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta konsistensi untuk menghasilkan kain dengan kualitas yang baik.
Keunikan Batik Dumai terletak pada inspirasi yang bersumber dari kekayaan sejarah dan alam setempat. Legenda Putri Tujuh serta karakter budaya Melayu pesisir diterjemahkan menjadi motif-motif yang merepresentasikan identitas Kota Dumai.
Hasilnya, lebih dari 10 motif batik khas telah diciptakan dan dipatenkan sebagai kebanggaan daerah. Motif tersebut menjadi pembeda sekaligus upaya untuk menjaga agar warisan cerita dan karakter lokal tetap hidup melalui karya seni.
Dari sebuah galeri yang dirintis bersama 15 warga, kini produksi Batik Dumai mencapai sekitar 100 lembar kain setiap bulan. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana pelatihan, kerja kolektif, dan keberanian memulai dapat membuka peluang baru bagi masyarakat.
Pertumbuhan Batik Dumai tidak berhenti pada peningkatan produksi. Pasarnya juga semakin berkembang, mulai dari masyarakat lokal hingga Aparatur Sipil Negara (ASN), instansi BUMN dan BUMD, lembaga pemerintah, serta komunitas seni.
Para perajin juga memperluas jenis produk untuk menjangkau konsumen yang lebih beragam. Batik Dumai kini tidak hanya dijual dalam bentuk kain, tetapi juga diolah menjadi busana siap pakai (ready-to-wear), tas jinjing (tote bag), alas meja, dan berbagai suvenir.
Diversifikasi produk tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus menambah nilai ekonomi dari setiap karya yang dihasilkan. Bagi para perajin, membatik bukan lagi sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga kesempatan untuk memperkuat pendapatan keluarga.
Di tengah perkembangan tersebut, karya para batikers Dumai mulai mendapat kesempatan tampil di panggung internasional. Batik hasil produksi warga Teluk Binjai ini tercatat tampil dalam Fashion Fest International Awards 2025 dan Bangkok Kids International Fashion Week 2025 di Thailand.
Pencapaian itu menjadi langkah penting dalam memperkenalkan identitas budaya Dumai kepada khalayak yang lebih luas. Karya yang berawal dari kegelisahan terhadap ketiadaan batik khas daerah kini memiliki ruang untuk bersaing dan dikenal di luar negeri.
Perkembangan Batik Dumai turut didukung proses pendampingan yang berkelanjutan. Salah satu pihak yang berperan dalam penguatan kapasitas perajin adalah PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program Community Involvement and Development (CID).
Dukungan tersebut berlangsung secara bertahap. Pada 2024, pendampingan dimulai melalui pembentukan galeri. Selanjutnya, pada 2025, penguatan diarahkan pada sarana dan prasarana produksi. Pada 2026, pendampingan berlanjut melalui pelatihan teknik membatik lanjutan.
Pada 8–12 September 2026, para perajin mengikuti pelatihan bertajuk “Membatik Lanjutan” dengan menghadirkan instruktur profesional dari Yogyakarta. Mereka mendapatkan pendalaman mengenai teknik pewarnaan serta eksplorasi variasi teknik untuk memperkaya kualitas visual produk.
Pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan perajin, menjaga mutu produk, dan mendorong lahirnya inovasi motif maupun produk baru yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Leni menilai dukungan PHR menjadi bagian penting dalam perjalanan Batik Dumai yang masih terus berkembang.
“Batik Dumai di usia remaja ini saya rasa hal yang tidak bisa dilepaskan dari orang tuanya yaitu PT Pertamina Hulu Rokan. Harapannya kegiatan hari ini bukan menjadi langkah akhir, tapi merupakan langkah awal bagaimana nanti Batik Dumai kedepannya bisa lebih berkembang lagi,” ungkap Leni Rahman.
Baginya, perjalanan Batik Dumai masih panjang. Penguatan kemampuan perajin perlu terus dilakukan agar mereka tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara kreativitas warga, dukungan Pemerintah Kota Dumai, dan pendampingan PHR menjadi modal untuk menjaga keberlangsungan usaha tersebut. Pelestarian budaya pun dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi keluarga.
Kisah Batik Dumai memperlihatkan bahwa identitas budaya tidak selalu hadir dengan sendirinya. Identitas itu dapat dibangun melalui keberanian memulai, ketekunan belajar, dan kerja bersama.
Dari tangan para ibu rumah tangga di Teluk Binjai, legenda Putri Tujuh menemukan bentuk baru di atas kain. Kini, setiap motif bukan sekadar karya seni, melainkan juga cerita tentang kebanggaan daerah, kemandirian warga, dan upaya membawa warisan budaya Melayu Dumai melangkah lebih jauh. (rls)