PEKANBARU — Sebanyak 2.199 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Sumatera pada Minggu sore, (6/9/2026). Data tersebut disampaikan petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Mari Frystine.
Dari jumlah tersebut, Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan sebaran hotspot paling tinggi, yakni mencapai 1.379 titik. Disusul Jambi sebanyak 260 titik, Bangka Belitung 189 titik, Riau 156 titik, dan Lampung 135 titik.
Sementara itu, hotspot di sejumlah provinsi lainnya terpantau lebih rendah. Aceh tercatat lima titik, Bengkulu empat titik, Sumatera Barat 14 titik, Sumatera Utara 28 titik, Kepulauan Riau 29 titik, dan sejumlah wilayah lainnya.
“Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera sebanyak 2.199 titik,” kata Mari Frystine, petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Minggu (6/9/2026).
Untuk wilayah Riau, BMKG mencatat sebanyak 156 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak di Riau, yakni 54 titik. Selanjutnya Bengkalis 25 titik, Indragiri Hilir 20 titik, Dumai 19 titik, Siak 12 titik, Pelalawan 11 titik, Kepulauan Meranti tujuh titik, Kuantan Singingi empat titik, Rokan Hilir dua titik, dan Rokan Hulu dua titik.
“Untuk wilayah Riau terdeteksi sebanyak 156 titik panas,” ujar Mari.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebaran hotspot masih cukup signifikan di Riau, dengan Indragiri Hulu menjadi wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas paling tinggi pada pemantauan Minggu sore.
Secara regional, tingginya jumlah hotspot di Sumatera juga menjadi perhatian karena sebagian titik panas berpotensi berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan maupun kondisi vegetasi yang mudah terbakar. Pemantauan dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun perlu terus ditingkatkan, terutama di wilayah dengan konsentrasi hotspot yang tinggi.