Oleh Riki Ariyanto
PEKANBARU – Di sudut ruangan, Syarifah Fety Adhani tampak fokus menyimak arahan dari Marlian Dwi Ratih (42). Ia diminta Owner Mahacinta Jewelry itu untuk membuat bros cantik dari batu alam.
Gadis itu kemudian mengambil kawat tembaga tipis dan batu alam yang siap pakai. Dengan teliti, jari jemarinya mulai membentuk pola dan dalam sekejap mata aksesoris cantik berhasil dibuatnya.
Gadis yang akrab disapa Fety merupakan seorang tunarungu. Walau terlahir sebagai penyandang disabilitas sensorik, namun keterbatasan itu tidak memadamkan mimpinya untuk berkarya. Di dunia yang sunyi bagi sebagian orang, Fety justru menemukan dunianya sendiri di rumah produksi Mahacinta Jewelry.
Di rumah UMKM milik Marlian Dwi Ratih (42), Fety diajarkan membuat aksesoris kecantikan, seperti gelang, kalung, hingga bros hijab sejak tahun 2024.
Komunikasi di Mahacinta Jewelry dilakukan dengan bahasa isyarat sederhana, namun berkat alat bantu dengar, memungkinkan Fety mendengar setiap pengarahan yang diberikan.
“Awalnya cukup sulit,” kata Fety terbata-bata saat ditemui halloriau.com pertengahan Mei 2026. “Tapi lama-lama saya bisa bikin bros cantik.”

(Syarifah Fety Adhani, seorang penyandang disabilitas sensorik sedang membuat bros cantik khas Mahacinta Jewelry/foto-Riki)
Bagi Fety membuat bros hijab atau produk lain seperti gelang manik-manik bukan cuma dijadikannya sebagai pekerjaan. Ini adalah caranya membuktikan keterbatasan bukan alasan untuk berkarya, selagi ada kemauan. Setiap bros yang dirangkai lewat tangan-tangan penyandang disabilitas ini tersimpan cinta dan cerita kegigihan dari mereka yang tak pernah menyerah.
Pertemuan Marlian Dwi Ratih atau yang akrab disapa Bu Ade dengan Fety berawal saat Mahacinta Jewelry memberikan pelatihan ke SLB Negeri Sri Mujinab Pekanbaru. Di sana Bu Ade melihat Fety yang menjadi ketua kelas dan menyimpan potensi yang bisa diasah.
“Dari semua anak di SLB itu, saya melihat Fety yang ada kemauan lebih dan cepat menangkap arahan yang saya ajarkan. Temannya yang lain cukup kesulitan ketika harus berbicara. Sampai sekarang sudah setahun Fety bersama Mahacinta,” kenang Bu Ade saat ditemui di rumah produksinya di Gang Budi Sentosa, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru.
Awal-awal, Fety membantunya buat kerajinan yang polanya tidak rumit. Dan waktu bekerjanya juga menyesuaikan jadwal Fety atau ketika ada banyak pesanan.
“Saya tidak banyak menuntut hasil dari Fety. Saat dia senang mengerjakannya, saya juga senang,” sebut ibu dua anak itu sambil tersenyum.
Dari situ Ade menilai baik Fety dan anak-anak difabel lain sebenarnya bisa terjun ke dunia usaha, khususnya dalam dunia kegiatan produktif. Dengan kemahiran yang dimiliki, tentunya tetap butuh pendampingan, penyandang disabilitas ini bisa tumbuh secara mandiri dalam kehidupannya.
“Mereka ini bisa loh berkarya dan produktif. Tinggal diarahkan saja, saya yakin hasilnya juga tidak kalah bagus,” ujar Bu Ade mantap.
Saat ini, Bu Ade masih aktif memberikan pelatihan, sesekali dirinya juga diundang untuk mengisi kelas di beberapa SLB yang ada di Pekanbaru. Hanya saja memang tidak semua mereka yang difabel bisa diajak bekerja di Mahacinta Jelwery.
“Karena jujur kalau membuat aksesoris atau kriya perhiasan ini tentu harus ada minat dulu ya. Karena butuh ketelitian dan kesabaran. Jadi bagi mereka yang difabel dan mau mengerjakan pembuatan manik-manik atau bros hijab seperti Fety ini tidak mudah. Tapi saya tetap upayakan kalau dipelatihan, bahkan penyandang disabilitas ini masih punya kesempatan untuk mandiri,” tuturnya.
Mahacinta Jewelry yang memberdayakan disabilitas, selain untuk memberikan kesempatan juga membawa pesan kepada dunia, bahwa disabilitas bukanlah akhir. Justru dengan kesempatan yang diberikan, mereka juga bisa percaya diri dan menunjukkan kemampuan berkarya dan mandiri pada dunia luar.
Itu sesuai dengan penelitian berjudul Penyandang Disabilitas Berdaya Melalui Strategi Pemberdayaan Precious One di Meruya Utara Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat karya Hamidah dkk (2022) didapati strategi pemberdayaan masyarakat disabilitas ini mampu membangun kepercayaan diri, kemampuan kemandirian, kreativitas yang dimiliki oleh disabilitas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2024 tercatat lebih dari 17,8 juta warga Indonesia adalah penyandang disabilitas. Kemudian Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Riau mencatat setidaknya ada sekitar 1.200 lebih difabel yang ada di Kota Pekanbaru, Riau.
Itu disampaikan Ketua PPDI Riau, Surflayman, S.Sos, yang akrab disapa Imen. Ia menilai dunia usaha belum sepenuhnya memberi ruang kerja inklusif bagi penyandang disabilitas.
Maka itu ia mengapresiasi Mahacinta Jewelry yang telah memberikan kesempatan difabel untuk berkarya dan mendapatkan pekerjaan. Sehingga membangkitkan kepercayaan diri mereka.
“Data dari Dinas Sosial 80 persen penyandang disabilitas tidak bersekolah. 20 persen sisanya kalau pun menempuh pendidikan banyak juga yang di SLB (Sekolah Luar Biasa). Sementara di bursa kerja, memilih difabel yang pendidikannya setara SMA sederajat. Kalau SLB perusahaan kurang berminat. Makanya penyerapan tenaga kerja difabel akhirnya di UMKM. Saya apresiasi Mahacinta mau membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk bekerja,” sebutnya.
Itu juga sesuai dengan Undang undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas serta Peraturan Pemerintah Nomor 70/2019 tentang Perencanaan, Penyelenggaraan, dan Evaluasi terhadap Penghormatan, Pelindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.
Program seperti yang dijalankan Mahacinnta Jewelry ini menjadi contoh antara sektor usaha dan masyarakat. Bisa menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan berkelanjutan.
“Pemberdayaan difabel bukan soal belas kasihan, namun juga tentang kesetaraan. Kami ingin penyandang disabilitas bisa berdiri sejajar dan bangga dengan kemampuan mereka,” ujar Imen, Selasa (9/6/2026).

(Marlian Dwi Ratih, owner Mahacinta Jewelry membuka usaha berawal dari hobi/foto-riki)
Hobi Membawa Berkah
Semua pencapaian Mahacinta Jewelry ini semua berawal dari hobi Bu Ade sewaktu remaja. Ia memang menyenangi kegiatan rakit manik-manik menjadi produk, seperti gelang hingga tas.
“Saat menikah, saya harus ikut suami yang tempat kerjanya berpindah-pindah. Lalu saya sebagai ibu rumah tangga, jadi kepikiran mau punya usaha. Tetapi usaha yang bisa dari rumah. Maka tahun 2018, saya kembali belajar membuat kerajinan bros dengan kawat, autodidak saja,” cerita Bu Ade.
Siapa sangka, hobi yang ditekuninya itu malah menjadi bisnis aksesoris yang sukses. “Niat awal saya membuat untuk dipakai sendiri saja. Alhamdulillah ada rejekinya di usaha ini,” katanya.
Bu Ade menyebut kekuatan dari produknya yang bersifat eksklusif. Sebab pembuatannya melibatkan keterampilan, ketelitian, sentuhan pribadi, dan bahan-bahan alami yang menghasilkan variasi unik pada setiap produknya.
“Dari bongkahan batu alam itu ada berbagai motif, jadi kalau ada yang beli produk Mahacinta Jewelry maka cuma pemiliknya yang punya itu. Jadi benar benar-benar limited edition,” ujarnya sambil memperlihatkan sejumlah kalung dan bros batu.
Dengan tingginya minat terhadap produknya, otomatis membuat Mahacinta membuka lapangan pekerjaan. Seperti pengakuan Intan (34), seorang ibu dari empat anak. Apalagi dirinya yang merupakan seorang janda, tentu merasakan dampak nyata secara ekonomi.
"Saya mendapat banyak ilmu di sini. Dan untuk ekonomi, saya benar-benar terbantu. Mahacinta dan Bu Ade menyelamatkan hidup saya," ungkapnya tulus.
Intan membagikan cerita, pernah pada satu waktu ada pesanan yang minta diantar malam-malam. Waktu itu Bu Ade menyarankan agar pakai jasa pengiriman saja, tapi Intan nekat mau antar sendiri ke pelanggan.
“Padahal waktu itu saya ngeri juga malam-malam apalagi lokasinya lumayan jauh. Tapi kalau sekarang diingat lagi jadi lucu juga, kok saya berani ya. Mungkin karena kebutuhan ekonomi,” kata Intan tergelak.
Saat ini kapasitas produksi untuk bros dagu bisa 4.000 pcs per bulan, sedangkan bros hijab dan lain-lain 50 pcs per bulan. Harga produk termurah Rp 10 ribu dan kalau termahal terutama produk yang menggunakan batu alam bisa Rp2,5 juta. Rata-rata omzet Rp35 juta sampai Rp40 juta per bulan, namun di momen tertentu seperti Hari Raya Idulfitri bisa Rp50 juta sampai Rp60 juta perbulan.
Bersama Bu Ade, Intan sering ikut pameran dan event-event lainnya. Selain menjual produk di galeri yang beralamat Gang Budi Sentosa No 107, Pekanbaru, produk juga dipasarkan secara digital seperti media sosial (Medsos) seperti Instagram dan lainnya. Produknya selain dijual di Riau, juga sampai ke Pulau Jawa dan Kalimantan.
Kolaborasi Berikan Semangat Baru
Mahacinta Jewelry sudah banyak mendapatkan penghargaan. Mahacinta mendapat penghargaan Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekanbaru pada Oktober 2025.
Dan salah satu yang paling berkesan, saat Mahacinta Jewelry meraih juara kedua dalam Harvesting Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) dan Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) pada pertengahan 2023 lalu.
Bu Ade menyadari usahanya bisa berkembang juga tidak terlepas dari peran jasa ekspedisi. Dalam proses distribusi produk unggulannya, ia bercerita sejauh ini mengandalkan jasa pengiriman PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).
“Sudah 2018, kami memang menggunakan jasa JNE. Selain harga yang kompetitif juga terbilang cepat,” katanya.
Bu Ade mengapresiasi sistem pelacakan JNE yang menurutnya sangat membantu dalam menjawab pertanyaan dari pembeli. Menurutnya, jasa kurir JNE secara umum telah berhasil memberikan kenyamanan dan ketenangan baginya.
“Karena kita ingin pelanggan yang memesan produk kita merasa nyaman kan, dan kita sebagai seller juga tenang karena produk kita ditangani dengan baik oleh kurir JNE,” sebutnya.
Untuk saat ini Bu Ade masih punya mimpi untuk terus berkembang. Dengan dukungan yang ada baik dari mitra perusahaan dan perbankan, Mahacinta Jewelry berencana membuka kelas khusus mengajarkan seni membatik kepada masyarakat, khususnya milenial dan Gen Z.
“Saya berencana membuka kelas untuk berbagi ilmu untuk semua kalangan, mau itu ibu rumah tangga, penyandang disabilitas, atau anak-anak muda. Harapannya mereka bisa mengembangkan usaha kreatif yang tentu saja punya nilai ekonomisnya,” ujarnya.

(JNE selalu meningkatkan layanan untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan/foto-dok JNE)
Tingkatkan Layanan Bagi UMKM
JNE selalu komitmen untuk merangkul dan meningkatkan layanan bagi UMKM. Dukungan ini membantu pemilik usaha memperluas jangkauan pasar dan mengoptimalkan bisnis penjualan. Tentunya tetap mengedepankan prinsip 'connecting happiness'.
Selama 35 tahun, JNE terus meneguhkan komitmennya dalam menciptakan layanan yang inklusif, mendukung ekosistem bisnis yang berkelanjutan di Indonesia.
Itu disampaikan Human Capital Section Head JNE Pekanbaru, Zulheri Adha. Saat ini Network JNE Pekanbaru ada 30 cabang dan 66 agen se-Provinsi Riau.
“Kita selalu berkomitmen ingin berkontribusi dengan merangkul UMKM yang ada untuk terus maju dan dikenal luas. Dengan menyediakan berbagai layanan terbaik, dengan harapan seller bisa profit selama menggunakan jasa JNE,” katanya, Jumat (12/6/2026).
Selain itu dari cerita sejumlah UMKM mulai ada yang mengeluh biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam penjualan market place.
“Maka itu JNE siap pick up produk dari seller ke pelanggan. Cukup menghubungi JNE melalui WhatsApp atau telepon, kurir kami akan handle jemput paket langsung. Jadi tidak perlu ada cerita biaya administrasi tambahan yang bisa mengurangi profit. Ini solusi yang kami tawarkan dengan memberikan pengalaman terbaik ke UMKM. Dengan harapan pelanggan bisa loyal dan tentunya happy bersama JNE,” sebutnya.
Untuk memastikan setiap pelanggan mendapatkan pengalaman yang baik, seluruh karyawan baru JNE juga dibekali pemahaman dalam menghadapi konsumen dengan berbagai kondisi, termasuk yang berkebutuhan khusus. Menurutnya, ini menjadi bagian dari standar operasional perusahaan agar semua pelanggan dapat dilayani dengan penuh kehangatan dan tetap professional.
Zulheri menambahkan untuk JNE Pekanbaru juga kerap menyediakan berbagai promo yang bisa dinikmati pelanggan. Seperti promo Pekanbaru Tarif Irit atau Petir. Promo ini berlaku dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pekanbaru yang ke 242. Ongkos kirim flat Rp10 ribu per kilogram, berlaku untuk service regular selama 1-30 Juni 2026.
“Kita juga ada JTR (JNE Trucking) hemat, flat ongkir kiriman paket besar dari Pekanbaru tujuan Padang, Medang, Banda Aceh, dan Silangit Cuma Rp5 ribu per kilogram. Promo yang diberikan ini sebagai apresiasi kita kepada pelanggan setia JNE Pekanbaru,” ujarnya.
Dengan semua terobosan yang dilakukan tidak heran, JNE mencatatkan berbagai prestasi gemilang. Selama April 2026, JNE sudah meraih penghargaan sebagai The Most Innovative Digitalization of Logistics and Courier Service 2026 pada ajang Indonesia Digital Innovation Awards (IDIA) 2026. Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan JNE dalam meningkatkan kualitas layanan melalui transformasi digital.
Bukan cuma itu, JNE turut meraih dua penghargaan bergengsi yakni, Golden Brand of The Year 2026 dengan peringkat Excellent dan Indonesia Digital Popular Brand Award (IDPBA) 2026 untuk kategori Jasa Pengiriman. IDPBA 2026 sendiri merupakan apresiasi bagi merek-merek yang sukses membangun popularitas dan kepercayaan publik melalui media digital.
Dari banyaknya pencapaian itu, JNE yang mengusung semangat “Connecting Happiness” membuktikan manfaat luas bagi karyawan maupun masyarakat hanya bisa diwujudkan melalui berbagai inovasi, kolaborasi, hingga edukasi untuk mendukung kesejahteraan masyarakat luas. (*)