Home / Pekanbaru | ||||||
Pemko Pekanbaru Gelar Tradisi Petang Megang, Sambut Ramadan dengan Kebersamaan Jumat, 28/02/2025 | 21:43 | ||||||
![]() | ||||||
Pemko Pekanbaru gelar tradisi Petang Megang sambut Ramadan 1446 H (foto/dini) PEKANBARU – Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali menggelar tradisi Petang Megang, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya masyarakat untuk mensucikan diri dan membersihkan diri dari segala sifat. Serta kebiasaan buruk sebelum memasuki bulan penuh berkah. Petang Megang adalah bagian dari budaya Melayu Riau yang telah diwariskan secara turun-temurun. Meski tidak dapat dipastikan sejak kapan tradisi ini dimulai, intinya Petang Megang menjadi simbol penyambutan bulan suci Ramadhan dengan semangat suci dan kegembiraan. Biasanya, kegiatan ini dilakukan di tepian Sungai Siak, mengingat sungai merupakan sumber kehidupan masyarakat Melayu. Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Pekanbaru, Zulhelmi Arifin, menegaskan bahwa tradisi ini harus dimanfaatkan sebagai momentum silaturahmi dan berkumpul bersama. "Saya ingin mengutip hadist shahih yang artinya, barang siapa yang berbahagia dengan datangnya bulan Ramadan, diharamkan jasadnya dari api neraka. Petang Megang ini sesuai dengan adat bersandi syara, karena bergembira menyambut bulan suci Ramadan," ujar Zulhelmi, Jumat (28/2/2025). Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pekanbaru, Masriyah, mengajak masyarakat untuk tetap menjaga budaya dan nilai-nilai tradisional yang diwariskan oleh para sesepuh. "Mari kita hidup bermasyarakat dengan adat bersandikan syara, syara bersandikan Kitabullah. Budayakan hidup bersih, mulai dari diri kita sendiri. Dengan gotong royong, segala yang berat akan terasa ringan," katanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Petang Megang diawali dengan ziarah kubur ke kompleks Makam Marhum Pekan di kawasan Masjid Raya Senapelan, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru. Makam ini merupakan tempat peristirahatan para pendiri dan tokoh bersejarah Pekanbaru, termasuk Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Marhum Pekan), yang dikenal sebagai pendiri Kota Pekanbaru. Setelah ziarah, acara dilanjutkan dengan shalat Ashar berjamaah di Masjid Raya Senapelan. Biasanya, setelah itu dilakukan arak-arakan menuju Rumah Singgah Tuan Kadi untuk prosesi mandi belimau, tetapi tahun ini arak-arakan tersebut ditiadakan. Dalam pelaksanaan Mandi Balimau, acara secara simbolis dibuka dengan penabuhan bedug yang biasanya dilakukan oleh Wali Kota Pekanbaru, Gubernur Riau, serta sejumlah pejabat daerah. Setelah itu, prosesi Mandi Balimau dilakukan dengan mengguyurkan air limau kepada beberapa anak yatim sebagai simbol penyucian diri. Namun, pada tahun ini, seluruh rangkaian kegiatan tersebut mengalami perubahan. Sebagai gantinya, prosesi Mandi Balimau hanya dilakukan secara simbolis dengan mengusapkan air limau kepada anak yatim, tanpa pelaksanaan mandi di Sungai Siak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tradisi Petang Megang memiliki nilai filosofis yang mendalam, baik dari sisi keagamaan maupun budaya. Masyarakat diimbau untuk tetap melaksanakan tradisi ini di lingkungan masing-masing, baik di rumah maupun dalam lingkup komunitas, dengan tetap menjaga keselamatan dan kebersihan. "Tuah Madani tidak hanya dibuat di sungai, tetapi juga di lapangan dan di rumah. Yang penting, semangat budaya dan nilai-nilai tradisi tetap dipertahankan," tutupnya. Penulis: Dini |
||||||
![]() ![]() |

HOME | OTONOMI | POLITIK | EKONOMI | BRKS | OTOMOTIF| HUKRIM | OLAHRAGA | HALLO INDONESIA | INTERNASIONAL | REDAKSI | FULL SITE |
Copyright © 2010-2025. All Rights Reserved |