Siak
Pemkab Siak | DPRD Siak
 
 
+ INDEX BERITA

18:17 - Polres Siak Ringkus Pelaku...
17:34 - Tak Hanya Gertak 'Sambal',...
09:34 - Alfedri Ajak Teruskan Perj...
18:59 - Mahasiswa Kukerta UR Ikut ...
10:33 - Demi Masyarakat, Ini Terny...
18:26 - Bupati Alfedri Inspektur U...
21:24 - Bupati Alfedri Ingin Bumka...
11:51 - Pemadaman di Desa Rawang A...
10:35 - Tunggu Rekom Teknis, BKPRD...
18:06 - Melihat Perjuangan Satgas ...
20:47 - Bupati Siak: Apel Siaga Pe...
19:41 - PT KTU Turunkan Tim Bantu ...
13:48 - Bupati Alfedri: Hari Ini K...
19:01 - Bursa Inovasi Desa Jadi Ko...
18:36 - BPJS Beri Bantuan Pembangu...
16:47 - Alfedri Tegaskan Jangan Ad...
16:05 - Mahasiswa Unri Tanam 1.000...
05:52 - Karhutla di Siak Sulit Dip...
18:32 - Kebakaran di Siak Makin Pa...
17:36 - Gubernur Riau dan Bupati S...
 
Advertorial
RAPP Tingkatkan Taraf Hidup Petani Nenas Desa Penyengat
Minggu, 16/06/2019 - 15:22:22 WIB
Salah satu petani Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak sedang memanen nanas di desa mereka.
Salah satu petani Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak sedang memanen nanas di desa mereka.
TERKAIT:
 
  • RAPP Tingkatkan Taraf Hidup Petani Nenas Desa Penyengat
  •  

    SIAK - Sebagai salah satu perusahaan terbesar di Riau, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) selalu berkomitmen untuk mensejahterakan masyarakat yang berada di sekitar daerah operasionalnya.

    Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya taraf hidup Petani Nenas Kabupaten Siak terutama kecamatan Sungai Apit Desa Penyengat.  

    Seperti yang diungkapkan Apo (32) Petani Nenas bahwa keberhasilan yang ia dapatkan saat ini, tidak luput dari bantuan yang diberikan RAPP kepada masyarakat dan dirinya yang telah menjadi rekanan perusahan swasta tersebut.  

    "Saya mengalami peningkatan taraf hidup sejak mengikuti program One Village One Comodity (OVOC) atau program 1 desa 1 komoditas yang diinisiasi oleh Community Development (CD) PT RAPP," ungkapnya.  

    Ia menceritakan bahwa dulunya sebelum menjadi rekanan RAPP,  penghasilannya sebulan hanya Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.  

    "Dulu penghasilan saya hanya cukup makan saja, itupun masih kurang. Sekarang bisa sampai Rp 2,5 juta dan bisa untuk biaya kuliah anak," ungkapnya. 

    Ia mengatakan bahwa di desanya ada sekitar 20 anggota keluarga di Desa Penyengat telah mengikuti program OVOC. Secara ekonomi, penghasilan mereka pun mengalami peningkatan. 

    Dalam satu hektare lahan tanam, terdapat 20.000 pohon dengan masa panen 12 bulan sekali. Nanas yang dihasilkan pun memiliki perkiraan berat hingga 1,5 kg per buah, sehingga Desa Penyengat memiliki potensi untuk menghasilkan 30 ton nanas per tahun dari setiap lahan. 

    Hasil panennya pun telah dipasarkan ke berbagai wilayah seperti Kota Siak, Sungai Pakning, Pekanbaru, Indragiri Hulu, bahkan Jakarta, di mana petani OVOC dapat menjual hingga 6.000 nanas per hari.

    "Bukan hanya itu saja,  kami juga diberikan pelatihan tentang cara bertani modern.  Bagaimana menghasilkan buah nenas yang baik dan berkualitas," ungkapnya. 

    Untuk hal ini, dirinya sangat berterimakasih kepada RAPP,  karena telah memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar, dan memberikan pelatihan serta menjadi rekanan RAPP.  

    "Terimakasih RAPP, berkat bantuan RAPP taraf kehidupan kita sudah berubah,  dan kami dapat menjadi petani yang modren," pungkasnya.  

    Sementara itu, Direktur CD RAPP Marzum menjelaskan program ini merupakan wujud komitmen RAPP untuk mensejahterakan masyarakat yang berada di sekitar daerah operasional. 

    OVOC merupakan program yang mengajak masyarakat desa untuk memilih hasil tani seperti apa yang cocok menjadi ciri khas desa mereka. Lalu, hasil tani tersebut bisa dijual untuk menapjadi sumber penghasilan masyarakat desa. Tidak hanya membantu masyarakat untuk mencari tahu saja, melalui program OVOC, RAPP juga memberikan pelatihan tentang cara bertani modern kepada masyarakat.

    “Perusahaan ingin tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sesuai dengan prinsip yang dianut oleh RAPP bahwa perusahaan haruslah baik untuk masyarakat (community), negara (country), iklim (climate), konsumen (customer) dan perusahaan (company),” tutur Marzum.

    Selain itu, masyarakat juga mendapatkan pelatihan cara menanam, pembibitan hingga pemasaran. Bantuan lain juga diberikan kepada para petani seperti bibit, pupuk, hingga pestisida. 

    Program OVOC ini sudah berjalan di empat kabupaten, yakni Siak, Kampar, Pelalawan, dan Kepulauan Meranti. Beberapa desa juga telah menuai hasil pertanian dari program OVOC ini, seperti Desa Kerinci Barat yang memproduksi jambu kristal, Desa Lalang Kabung dengan jambu madunya. (Adv)




    Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
    Silakan SMS ke 0813 7176 0777
    via EMAIL: redaksi@halloriau.com
    (mohon dilampirkan data diri Anda)

     
    Berita Lainnya :
  • Kabut Asap Pekat di Pekanbaru, Sekolah Boleh Pulangkan Peserta Didik
  • Ardiansyah: Ada Upaya Pembatalan SK Saya sebagai Ketua DPRD Meranti
  • Pangdam I/BB Lepas Satgas Pengamanan Perbatasan RI-Timor Leste di Dermaga A Pelindo Dumai
  • Matangkan Layanan 5G, XL Axiata Kembali Uji Coba Teknologi 5G dan Gencarkan Fiberisasi Jaringan
  • Warga Sinaboi Hina UAS di Facebook, Bupati Rohil Kumpulkan Tokoh Agama
  •  
    Komentar Anda :

     
    Eksekutif : Pemprov RiauPekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved