Pelalawan
Pemkab Pelalawan | DPRD Pelawan
 
 
+ INDEX BERITA

12:20 - Dukung Pengeboran Bingo, P...
16:29 - Bukti Komitmen Pemberdayaa...
19:37 - Enggan Kenakan Masker N95 ...
19:14 - IDI Pelalawan Peduli Benca...
17:25 - Kabut Asap Tak Kunjung Mem...
19:20 - Kabut Asap Tak Kunjung Red...
17:59 - Wakil Bupati Pelalawan Seb...
17:48 - Kunjungi Karhutla di Pelal...
18:51 - Kodim 0313 KPR Masih Berji...
15:55 - Penutupan MTQ XVIII, Ini P...
15:56 - Pemkab Pelalawan Bangun 36...
15:16 - MPC PP Pelalawan Minta Per...
17:00 - Kabut Asap Makin Pekat, Ka...
14:07 - Bupati Harris Resmikan Kan...
13:45 - Lahan PT Adei Kembali Terb...
13:32 - Wabup Zardewan Buka MTQ XV...
16:29 - Gara-Gara Asap, Pemkab Pel...
15:25 - Udara Memburuk Akibat Asap...
10:20 - Kabut Asap Makin Tebal di ...
17:24 - Wujudkan Pelalawan Emas, D...
 
Habis Gelap, Terbitlah (Pelalawan) Terang....
"Purnama" Listrik di Desa Sidomukti
Senin, 12/08/2019 - 15:17:21 WIB
Berkat listrik yang terpasang gratis, kini Nenek Warti (80) bisa terhibur dengan menonton siara di TV.
Berkat listrik yang terpasang gratis, kini Nenek Warti (80) bisa terhibur dengan menonton siara di TV.
TERKAIT:
 
  • "Purnama" Listrik di Desa Sidomukti
  •  

    Oleh: Andy Indrayanto

    WAJAH
    Sumardi (40) terlihat berbinar saat menceritakan peristiwa yang terjadi empat tahun silam itu. Emosi kebahagiaan tergurat jelas di wajahnya kala bercerita soal arus listrik menerangi rumahnya, pertama kali. Peristiwa yang bagi kebanyakan orang adalah hal biasa, tapi tidak bagi laki-laki yang berprofesi sebagai buruh tani kelapa Sawit ini. Bagi dia, momentum lampu pijar menyala di rumahnya menggantikan lampu teplok yang berpuluh-puluh tahun menemani Sumardi dan keluarganya di tahun 2015, terpatri begitu kuat di hati dan benaknya.
     
    "Rasane bli karuan, Pak, seneng pisan wis ana listrik (Perasaannya tak karuan, Pak, senang sekali sudah ada listrik)! Dina kien umae kita dipasang listrik karo PLN, esukan ne kita langsung tuku TV (Hari ini rumah saya dipasang listrik oleh PLN, besoknya saya langsung beli TV)," aku Sumardi polos dengan logat Jawa-nya yang medok saat penulis menyambangi kediamannya di Desa Sidomukti, Kecamatan Pangkalankuras, Kabupaten Pelalawan, Riau, Sabtu lalu (11/7).

    Telunjuk laki-laki kelahiran Kertasmaya, Indramayu, Jawa Barat, ini mengarah ke kotak kaca ukuran 21 inci tipe layar datar yang tengah menayangkan film kartun anak-anak dari Malaysia. Satu orang anaknya, laki-laki yang baru berusia 7 tahun kerap tertawa menyaksikan polah dua anak kembar dari Malaysia. TV yang tengah ditonton anaknya itulah yang langsung dia beli, sehari setelah rumahnya terpasang listrik.

    "Asli, Pak, kita kesuwun pisan karo PLN sing wis masang listrik di umahe kita (Asli, Pak, saya berterima kasih sekali dengan PLN yang sudah pasang listrik di rumah saya). Gratis maning (Gratis lagi)!" Lagi-lagi laki-laki yang memiliki dua anak ini tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.

    Kegembiraan meletup juga dirasakan oleh Nenek Warti (80), Warga Desa Sidomukti lainnya pada penulis. Saat disambangi di kediamannya, Sabtu (11/7). Warti yang berasal dari Solo ini, secara gamblang menyatakan kegembiraannya saat ditanya perasaannya soal arus listrik yang sudah mengalir di rumahnya, empat tahun lalu. 

    "Seneng banget, Pak, sekarang bisa nonton TV, jadi kayak ada yang nemenin," kata Warti yang di usia senjanya hanya tinggal seorang diri. 

    Warti mengaku dengan sistim listrik bersubsidi prabayar ini, dia hanya membeli pulsa listrik 50 ribu saja yang mencukupi selama satu bulan. Sedangkan warga Sidomukti lainnya, Rosi (30), hanya dengan pulsa listrik prabayar 20 ribu sudah bisa mencukupi kebutuhan listrik selama satu bulan.

    Sumardi (40), salah satu warga tak mampu di Desa Sidomukti, di depan
    rumahnya yang kini sudah terpasang aliran listrik. Laki-laki inilah yang
    selang sehari listrik masuk ke rumahnya, dia langsung membeli televisi.

    "Sejak dipasang listrik,  pekerjaan saya jadi lebih mudah. Mau 'narik' air pake mesin, mau masak nasi, semuanya jadi lebih mudah," kata Rosi seraya mengucapkan terimakasih pada PLN yang telah memasangkan listrik gratis di rumahnya,  juga pada Bupati Pelalawan dengan program Pelalawan Terang-nya yang telah mampu menerangkan rumahnya dari program tersebut.

    Sumardi, Nenek Warti dan Rosi adalah tiga warga Desa Sidomukti dari 95-an warga tak mampu di desa tersebut yang mendapatkan pemasangan listrik gratis dari PLN di tahun 2015 dari program Pemasangan Listrik Gratis untuk Rumah Tangga Sasaran (RTS) atau program Lisdes Riau tahun anggaran 2014. Kegembiraan yang masih terus tersisa oleh ketiga warga tak mampu di Desa Sidomukti yang terpasang aliran listrik gratis dari PLN empat tahun lalu itu seolah menjadi bukti nyata bahwa energi berkeadilan yang diprogramkan pemerintah dirasakan langsung oleh mereka.

    "Saat melihat rumah warga tak mampu diterangi listrik, saya bagai melihat 'purnama' di rumah mereka. Seperti purnama yang indah menerangi, begitu saya melihat lampu-lampu yang terpasang di rumah warga," kata Kepala Desa Sidomukti, M. Khozin (45), saat penulis menyambangi kediamannya, Sabtu (11/7).

    Namun 'purnama' listrik yang dirasakan oleh warga Desa Sidomukti itu memang tak bisa lepas dari tangan dingin M. Khozin (45). Laki-laki berperawakan tegap ini sudah memasuki dua periode jabatannya sebagai Kades yang membawahi 400-an Kepala Keluarga (KK). Dibutuhkan waktu serta proses panjang sampai semua warga desanya benar-benar "merdeka" dari gelapnya suasana pedesaan tanpa lampu. 

    Salah satu warga tak mampu di Desa Sidomukti, Rosi (30), berphoto di
    depan rumahnya bersama Kades Sidomukti, M Khozin, saat menyambangi
    kediamannya.

    Bertahun-tahun desa itu tak tersentuh aliran listrik namun bukan hanya kampung itu saja yang belum merdeka dari listrik, bahkan boleh dibilang di awal 90-an hampir sebagian besar wilayah yang kini menjadi Kabupaten Pelalawan itu belum menikmati nyala lampu. Apalagi Kabupaten Pelalawan kala itu masih belum masuk dalam catatan sejarah Provinsi Riau. Dia masih mengendap di Kabupaten Kampar yang menjadi kabupaten induknya. Jadi jangankan soal listrik, persoalan-persoalan lain pun jelas jauh tertinggal. 

    "Listrik kala itu menjadi sesuatu yang langka dan benar-benar berharga. Roda kehidupan masyarakat susah, ekonomi masyarakat tak sejahtera,  anak-anak belajar terkendala karena penerangan hanya memakai lampu minyak. Situasi ini benar-benar mengusik saya," kata Khozin memulai ceritanya, memutar kembali memorinya di awal 90-an.

    Tahun 1994, tak betah dengan kondisi gelap gulita serta keinginan masyarakat yang ingin maju, warga sepakat menggunakan diesel sebagai penerang. Sebagai pengguna, warga masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok tani, dimana satu kelompok tani terdiri dari 25 orang.  Hampir sembilan tahunan masyarakat mempergunakan disel sebagai pembangkit tenaga listrik sampai tahun 2003. Tapi lama-kelamaan masyarakat tak sanggup membayar karena biaya operasional mesin disel makin membengkak.

    "Tahun 2003, masyarakat kembali bermusyawarah soal perlunya listrik di desa ini. Kekompakan serta keinginan masyarakat untuk maju membuat segalanya jadi lancar. Akhirnya, kita sepakat untuk mencari investor yang mau mendirikan PLTD di desa ini. Semua dana kala itu ditanggung oleh masyarakat dari mulai tiang, jaringan yang semuanya menghabiskan dana kisaran 1,3 milyar," mata Khozin menerawang, mengingat kembali detil demi detil peristiwa beberapa tahun silam itu.

    Saat itu, ada sekitar 400-500 Kepala Keluarga (KK) yang 'urun rembuk' soal pemasangan PLTD. Bagi warga yang mampu, mereka diberi keringanan dengan cara mencicil tiap bulannya, antara 70 ribu sampai 100 ribu. Warga terutama kaum ibu dan anak-anak makin semangat dan antusias. Anak-anak jadi bisa belajar lebih lama,  mereka juga bisa belajar mengaji di musholla habis magrib karena lampu listrik dari PLTD itu menyala dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi.

    "Waktu itu, kehidupan masyarakat di desa terasa bersemangat, semua bergairah menjalani hari-hari karena ada listrik," kata Khozin yang kala itu belum menjabat sebagai Kepala Desa. Dia masih tercatat sebagai karyawan di salah satu perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang ada di Kecamatan Pangkalan Kuras, Pelalawan. 

    Di tahun 2009, Khozin mencalonkan diri jadi Kepala Desa Sidomukti dan dia terpilih menjabat sebagai Kades Sidomukti sampai tahun 2015. Keinginan laki-laki yang belum bisa menyupir mobilnya sendiri ini untuk maju menjadi Kades cuma satu yakni terpenuhinya kebutuhan listrik bagi masyarakat, itu saja! Pasalnya, kerapkali dia tak habis pikir soal pemenuhan kebutuhan listrik ini. Sebagai alat kebutuhan yang vital, listrik nyaris memegang semua peranan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

    "Artinya, hampir semua aktivitas manusia memerlukan listrik. Anak-anak belajar butuh listrik, ibu-ibu memasak nasi, mencuci, dan lainnya hampir kebanyakan mempergunakan listrik. Kadang saya berpikir, kok ya hidup sudah modern tapi kenapa di daerah saya belum ada listrik? Ironis rasanya bahkan terkesan tak masuk akal," kata Khozin.

    Bayangkan saja, di tengah hidup yang telah begitu modern seperti saat ini, merupakan sebuah keniscayaan jika di Desa Sidomukti belum terpasang listrik secara permanen. Dibandingkan dengan Pulau Jawa, jelas jauh tertinggal, bukan hanya tertinggal soal menikmati listrik tapi ketertinggalan dari segala bidang. Memang sebagian warga mempergunakan PLTD untuk menyalakan listrik tapi tidak semua warga mampu membayar tiap bulannya yang menghabiskan biaya 250-500 ribu. Karena bagi warga tak mampu membayar iuran PLTD, mereka cukup puas dengan lampu minyak saja. Namun kemudian berkat program hasil kerjasama antara Distamben Pelalawan dan Provinsi, bagi warga Desa`Sidomukti yang tak mampu dipasang listrik dari tenaga surya atau PLTS. 

    Sejenak hati Khozin lega karena warga desanya, baik yang mampu dan tidak kini rumahnya sudah dialiri listrik. Namun kebahagiaan itu kerapkali tak berumur panjang. Beban penggunaan PLTD semakin berat dirasakan oleh warga. Apalagi sekitar tahun 2011-2012, beban perekonomian juga semakin berat, hal ini membuat warga makin tertatih dalam menopang kebutuhan hidup keluarganya. Karena beban hidup yang berat itulah, kala itu PLTD hanya menyala setengah hari saja yakni dari jam 6 sore sampai tengah malam.

    "Dari tengah malam sampai pagi, kami kembali memakai lampu minyak. Inikan jadi seperti mundur lagi ke belakang, Bang, karena setelah merasakan adanya listrik kami kembali dipaksa pakai lampu minyak, karena beban PLTD yang semakin berat," kata laki-laki kelahiran Banyuwangi, 46 tahun lalu itu.

    Khozin kembali bergerak mencari peluang pemasangan listrik dari PLN dengan intens melakukan koordinasi dan komunikasi dengan PLN Pekanbaru dan Pangkalankerinci. Peluang itu akhirnya diperolehnya, saat dirinya mendengar bahwa PLN mempunyai program Listrik Desa (Lisdes) untuk di Riau. Dari informasi ini, Khozin memberanikan diri mengumpulkan 10 Kades yang ada di Kecamatan Pangkalankuras guna membicarakan soal lisdes ini. Memang terjadi pro dan kontra, tapi laki-laki yang memiliki empat anak ini, jalan terus. Tekadnya menguat, keluhan para warganya soal listrik terus mengiang di benaknya.

    "Tahun 2011-2012, kami gencar membuat proposal pengajuan pemasangan listrik bagi desa kami ke PLN Pekanbaru. Sejalan dengan itu, kami juga tetap intens melakukan koordinasi dengan Distamben Pelalawan dan PLN Pangkalankerinci," kata suami dari Herlina S.Pd yang berprofesi sebagai guru honor di SDN 012 Surya Indah, Pangkalankuras, ini.

    Dalam surat berkop Pemdes Sidomukti tertanggal 8 Desember 2011 yang ditunjukkan Khozin ke penulis, diperlihatkan bukti permohonan dirinya selaku Kades Sidomukti terkait soal listrik pada PLN wilayah Riau dan Kepri di Pekanbaru. Dalam surat yang tembusannya disampaikan ke PLN Ranting Pangkalankerinci, Camat Pangkalankuras di Sorek Satu dan sebagai arsip itu, dijelaskan juga soal jumlah 416 KK yang terdata sebagai warga Desa Sidomukti.

    "Keluhan warga, Bang, yang membuat saya bertekad untuk terus maju, memohon pemasangan listrik. Keluh kesah mereka menjadi 'ritual' yang harus saya terima setiap harinya. Tapi ini jadi cambuk bagi saya untuk secepatnya menemukan solusi dari semua permasalahan listrik ini," ujarnya. 

    Segala usaha dan upaya Khozin akhirnya membuahkan hasil. Di penghujung tahun 2013 tepatnya di bulan September, pijar lampu secara resmi menerangi Desa Sidomukti lewat program Listrik Desa yang ditaja oleh PLN. Sebanyak 300-400 KK yang ada di Desa Sidomukti mendapatkan program tersebut meski harus membayar 3-4 juta pada Biro untuk satu rumah. Tak ada keberatan dari warga, bahkan mereka rela dan tak menuntut ganti rugi saat tanah atau pohon-pohon sawit yang ada di halaman mereka harus ditumbangkan digantikan tiang-tiang listrik dari PLN.  

    "Masyarakat antusias dipasang jaringan listrik. Mereka ingin maju, warga ingin anak-anak mereka bisa belajar tanpa harus terkendala karena tak ada listrik, warga ingin anak-anak mereka bisa mengaji, dan ibu-ibunya juga ingin melaksanakan segala aktivitas dengan mudah, juga masyarakat yang punya usaha sampai malam hari tak harus terbatas lagi dalam menggunakan listrik. Jadi mereka rela dan ikhlas jika pohon-pohon sawit yang ada di halaman rumah mereka harus ditumbangkan, mereka sama sekali tak menuntut ganti rugi. Kebersamaan dan keikhlasan warga ini yang benar-benar mengharukan saya selaku Kades," kata Khozin yang mengaku kerap menitikkan airmata jika mengingat warganya pernah mengalami listrik hanya setengah hari saja di waktu malam.

    Lampu-lampu pijar kini telah menerangi Desa Sidomukti. Jalan-jalan terang disinari lampu yang menyala 24 jam menjadi tawa kegembiraan bagi warga Desa Sidomukti. Pemilik usaha kecil seperti usaha photocopy makin berjalan lancar. Dia kini tak perlu khawatir lagi biaya operasionalnya makin membengkak jika harus menggunakan diesel. Dan masyarakat yang memerlukan jasa usaha photocopy juga tak perlu lagi jauh-jauh harus ke daerah Sorek yang berjarak 16 Km.

    Tak hanya itu, para warga juga kini tak harus khawatir lagi saat terjaga di tengah malam tiba-tiba suasana sudah berubah menjadi gelap gulita seperti saat memakai PLTD dulu. Para ibu juga tak perlu resah lagi jika di pagi hari mempersiapkan sarapan buat suami dan anaknya karena tak adanya listrik. Kini, tinggal menyalakan tombol di rice cooker, tak lama nasi akan siap dihidangkan, sambil menonton layar kaca yang menyuguhkan berita-berita nasional dan mancanegara. Anak-anak sekolah kini dapat tersenyum riang, karena bisa belajar dan mengaji tanpa dibatasi ketakutan akan mati lampu. 

    "Di balik kegembiraan yang saya rasakan itu, sebenarnya ada perasaan mengganjal di hati saya karena melihat sebagian warga khususnya yang tak mampu masih menggunakan PLTS. Bukannya tak bersyukur, meski PLTS juga bisa membangkitkan listrik tapi kan penggunaannya tak maksimal, tidak bisa 24 jam seperti kami. Untuk nonton TV saja terbatas, kalau disetel malam paling banter 2-3 jam saja. Juga untuk menyalakan air tak maksimal," Khozin menghela napasnya, seolah-olah ikut merasakan kesusahan yang dialami warganya yang tak mampu.

    Keresahan Kades Sidomukti yang mudah bergaul ini ternyata masih belum tuntas. Masih ada segumpal 'uneg-uneg' di dadanya melihat sebagian warganya masih belum terbebas dari listrik meski sudah menggunakan PLTS. Untuk kesekian kali Khozin kembali 'wara-wiri' ke Distamben Pelalawan dan PLN Pekanbaru. Dan Tuhan rupanya masih mendengar keinginan laki-laki yang ingin berbuat terbaik bagi warganya itu.

    "Dari informasi yang saya dapat, rupanya akan ada program listrik bagi Rumah Tangga Tak Mampu yang ditaja oleh PLN. Kalau tak silap, program ini kerjasama dengan Distamben Pelalawan," Khozin menyodorkan arsip surat tahun 2014 dari PLN Riau dan Kepri ke Kepala Distamben Pelalawan.

    Dalam surat tersebut, PLN memberitahukan soal program pemasangan listrik gratis untuk Rumah Tangga Sasaran (RTS) pada masyarakat kurang mampu atau miskin. Disebutkan juga dalam surat tersebut bahwa jumlah calon yang diajukan sebanyak 250 calon pelanggan, dengan disertai sejumlah persyaratan yang menunjukkan bahwa calon pelanggan memang benar-benar dari kalangan tak mampu.

    "Selang dua minggu kemudian, saya langsung membuat surat berisi nama-nama warga tak mampu di Desa Sidomukti yang akan mendapatkan program tersebut dan ada 90-an orang yang tercatat. Mereka adalah warga tak mampu dari Desa Sidomukti yang masih menggunakan penerangan dari tenaga surya. Tapi alhamdulillah kuota yang ada malah 250 orang, jadi sisanya saya alokasikan ke desa terdekat yang memiliki warga tak mampu," ujarnya.

    Bak pepatah sekali mendayung dua pulau terlampaui, begitulah gambaran para penerima program RTS di Desa Sidomukti dalam analogi Khozin. Betapa tidak, dari yang diajukan 90-an warga yang dapat malah 250 warga sesuai kuota yang ditetapkan PLN, sehingga sisanya diberikan kepada warga tak mampu yang berada di sekitar Desa Sidomukti. Segera persyaratan yang dibutuhkan bagi warga tak mampu itu digesa oleh Khozin. Diantaranya surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan dari Desa diketahui oleh Camat, foto rumah dan calon penerima program RTS akan disurvei ulang oleh PLN.

    "Setelah PLN kembali mensurvei calon penerima program RTS, tak lama rumah warga tak mampu itu dialiri listrik oleh PLN. Semua pemasangan dilakukan gratis tanpa dipungut bayaran apapun, ini karena adanya kerjasama dengan Distamben Pelalawan dimana arus listriknya berasal dari PLTMG Langgam Power, yang merupakan realisasi dari program Pelalawan Terang Pak Bupati. Bahkan bohlam lampu bagi masyarakat tak mampu itu diberikan cuma-cuma oleh PLN. Mereka hanya tinggal pakai saja dengan tarif bersubsidi, listrik yang digunakan adalah sistem layanan prabayar," Khozin tertawa, seperti ikut merasakan kegembiraan warganya yang tak mampu saat arus listrik menerangi rumah mereka.

    Begitu terpasang listrik, Khozin melihat wajah-wajah warganya yang tak mampu itu selalu diliputi kegembiraan tak terperi. Bagi mereka, lampu listrik yang menyala 24 jam dari program RTS PLN yang bekerjasama dengan Distamben Pelalawan, merupakan hadiah yang tak ternilai. Bahkan mungkin takkan terpikir dalam benak mereka bahwa suatu saat nanti, mereka pun akan merasakan 'kemerdekaan' dari kegelapan listrik.

    "Seperti Pak Sumardi itu, Bang. Sehari setelah listrik dari program RTS terpasang di rumahnya, esoknya dia langsung beli TV. Ini bukan cerita hoax, kalau tak percaya Abang tanya langsung saja ke orangnya. Jadi terasa sekali betapa listrik sudah membuat hidup seseorang berubah, jadi tambah semangat," terang Khozin yang langsung disetujui oleh penulis, karena memang sebelumnya sudah bertemu dengan laki-laki yang berasal dari Indramayu itu.

    Menjalani masa dua periode kepemimpinannya sebagai Kades Sidomukti, sedikit banyak Khozin telah membuktikan bahwa keberhasilan seorang pemimpin dalam tingkatan apapun harus didukung oleh masyarakat. Begitu juga dirinya saat 'berjuang' memenuhi kebutuhan listrik bagi warganya, takkan mungkin bisa terlaksana tanpa adanya dukungan dari Pemkab Pelalawan. Dengan program Pelalawan Terang yang ditaja oleh Bupati Pelalawan HM Harris, membuat keinginannya untuk bisa memenuhi kebutuhan listrik bagi warganya, menjadi sebuah sinergi yang saling mendukung satu sama lain.

    "Saya bagai menatap bulan purnama, melihat rumah-rumah warga saya yang tak mampu, yang atapnya saja dari rumbia dan dindingnya dari papan namun kini telah diterangi oleh listrik. Tanpa adanya program Pelalawan Terang Pak Bupati, bisa jadi perjuangan saya memenuhi kebutuhan listrik warga masih panjang bahkan boleh jadi masih belum selesai sampai saat ini. Karena itu, bagi saya program Pelalawan Terang Pak Bupati sudah terbukti nyata," kata Khozin.

    Bertahun-tahun Desa Sidomukti dan desa-desa lainnya yang ada di Kabupaten Pelalawan berselimut gelap, tanpa penerangan sama sekali. Tercipta program Pelalawan Terang dari gagasan Bupati Pelalawan HM Harris membuat ratio elektrifikasi Negeri "Bekudo Bono" ini melejit dengan pesat. Kabupaten Pelalawan yang di era 90-an sampai pemekaraannya di tahun 1998 tetap dijajah kegelapan, kini telah menyala dengan lampu-lampu pijar yang menerangi tiap penjuru di daerah ini. Habis gelap, terbitlah Pelalawan terang!

    Dari Pelalawan Terang Menuju Indonesia Terang

    Keberhasilan Kepala Desa Khozin menyalakan 'purnama' bagi masyarakat Desa Sidomukti, tak lepas dari kegigihan Bupati Pelalawan HM Harris dalam mewujudkan program Pelalawan Terang. Orang nomor satu di Kabupaten Pelalawan itu begitu menginginkan masyarakat di daerahnya yang dijuluki 'Tuah Negeri Seiya Sekata' ini bisa menikmati penerangan listrik dalam 24 jam.

    Betapa tidak, ditahbiskan menjadi Bupati Pelalawan di tahun 2011, kala itu ratio elektrifikasi listrik di Kabupaten Pelalawan tergolong berada di posisi terendah se Indonesia, cuma 21,17%. Ini jelas gambaran yang ironi dari sebuah daerah yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA)-nya yang melimpah. Ini juga artinya bahwa sebagian besar masyarakat di Kabupaten Pelalawan masih hidup dalam kegelapan. 

    "Peningkatan ratio elektrifikasi listrik menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di periode kepemimpinan saya yang pertama, Pak," kata Harris, menceritakan kembali pada penulis, ihwal gagasannya melahirkan program Pelalawan Terang, di penghujung bulan Juli lalu.

    Ketertinggalan diberbagai bidang membuat duet HM Harris dan Drs. Marwan Ibrahim melahirkan tujuh (7) program prioritas di periode pertamanya, dimana salah satunya yaitu Pelalawan Terang. Didukung SDA berupa gas yang melimpah, program Pelalawan Terang melahirkan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) PT.Langgam Power. Pembangunan jaringan listrik oleh PLN dan pembangunan jaringan listrik melalui APBD Provinsi Riau dan APBD Kabupaten Pelalawan.

    "Program Pelalawan Terang bukan hanya sekedar mengejar target rasio elektrifikasi saja tapi yang paling utama adalah memberi akses pemerataan listrik bagi seluruh lapisan masyarakat. Dan program ini juga sejalan serta mendukung program Nawacita Presiden Jokowi-JK di periode pertama yakni mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis khususnya kedaulatan energi," kata laki-laki yang sebelum terjun ke dunia politik, sudah malang-melintang menjadi pengusaha.

    Beroperasinya PLTG PT. Langgam Power di tahun 2013 berdampak nyata dengan teratasinya kekurangan daya listrik di Kabupaten Pelalawan umumnya dan Pangkalan Kerinci khususnya sebagai Ibukota Kabupaten Pelalawan. Padahal sebelum PLTMG Langgam Power beroperasi, kondisi listrik yang byar-pet lebih dari tiga kali dalam sehari bahkan lebih, sudah menjadi tradisi yang harus dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Pelalawan. Jangankan di wilayah-wilayah kecamatan, Pangkalan Kerinci saja yang notabene sebagai Ibukota Kabupaten Pelalawan sudah terbiasa alami lampu 'hidup-mati' tak berkesudahan.

    "Jujur saja, sebelum PLTMG Langgam Power berdiri saya sering dipersalahkan jika lampu padam, padahal di rumah dinas saya juga lampu mati sehingga harus pakai genset. Artinya, saya juga saat itu merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat kalau lampu padam. Tapi saya tetap menerima laporan tersebut meski bukan jalurnya," kata mantan Ketua Umum Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) Tahun 2005 sampai 2010 ini.

    Program Pelalawan Terang begitu nyata memberikan dampak pada peningkatan ratio elektrifikasi listrik di Kabupaten Pelalawan. Jika di tahun 2011, ratio elektrifikasi listrik hanya 21,178% maka di tahun 2016 berangsur naik menjadi 60 persen dan terus merangkak naik hingga di penghujung tahun 2017 mencapai angka 74,24 persen. Kegigihan Harris dalam merealisasikan mimpi besar itu perlahan namun pasti terwujud dengan penerangan yang menyala 24 jam di hampir seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Pelalawan.

    "Ratio elektrifikasi di Pelalawan bisa meningkat, karena kita kolaborasikan program Pelalawan Terang dengan Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Desa/Kelurahan (PPIDK). Kita bangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Langgam Power karena saat itu PLN tidak memiliki anggaran dan tidak punya energi, BUMD Tuah Sekata yang kita miliki bertugas mencari investor. Sementara untuk masalah jaringan, kita anggarkan dari PPIDK. Dari dana program PPIDK inilah yang membangun secara swadaya adalah masyarakat sendiri, dari mulai jaringan sampai kabel," terangnya. 

    Dengan kolaborasi program Pelalawan Terang dan PPIDK ini, ratio elektrifikasi di Kabupaten Pelalawan melejit melebihi target provinsi bahkan nasional. "Alhamdulillah, angka ratio elektrifikasi listrik di Kabupaten Pelalawan telah mencapai 89%," kata Harris sumringah. Wajahnya berbinar saat berbicara tadi.

    Komitmen orang nomor satu di Kabupaten Pelalawan itu memang tak hanya sebatas 'lips service' saja. Suami dari H. Ratna Mainar Harris ini mendukung sepenuhnya masuknya program listrik desa yang ditaja oleh PLN. Program listrik desa yang dimulai tahun 2015 itu turut mendongkrak ratio elektrifikasi di Kabupaten Pelalawan.

    "Target kita di PLN di tahun 2019, ratio desa berlistrik di Kabupaten Pelalawan capai 100 persen," tandas Humas PLN Wilayah Riau-Kepri, Fendi, via whatsapp-nya, beberapa waktu lalu.

    Dalam berbagai kesempatan, HM Harris optimis bahwa di tahun 2020 elektrifikasi listrik di kabupaten Pelalawan bisa tercapai 100 persen atau dengan kata lain Kabupaten Pelalawan sudah akan teraliri listrik semua. Karena itu, guna mewujudkannya dia mengharapkan swadaya masyarakat untuk bersama-sama pemerintah daerah mensukseskan program Pelalawan Terang yang menjadi prioritas program pemerintah daerah.

    "Apalagi program ini sejalan dengan program pemerintah pusat Jokowi-Jusuf Kalla yaitu listrik masuk desa," tandasnya.

    Disinggung soal program Pelalawan Terang-nya yang terlebih dahulu muncul dibanding dengan Riau Terang bahkan Indonesia Terang, Harris menyatakan, pada hakekatnya jika berbicara soal Pelalawan Terang maka itu saja sama berbicara soal kerangka yang lebih luas yakni Indonesia Terang.

    "Pak Jokowi memiliki program 35 ribu Mega Watt, kita sudah membangun juga 50 Mega Watt. Kebetulan kita sudah memulai terlebih dahulu di tahun 2013, jadi ketika Pak Jokowi mengeluarkan program tersebut, kita sudah mendukungnya. Jadi ada sinergi program antara Pusat dan Daerah dengan satu tujuan yang sama yakni bagaimana Indonesia ke depannya bisa bersaing dengan dunia," ungkap Bupati yang menjabat dua periode kepemimpinannya ini.

    Cemerlangnya gagasan Pelalawan Terang yang digagas Bupati Pelalawan HM Harris sehingga mampu meningkatkan ratio elektrifikasi listrik di daerah yang dipimpinnya, dibenarkan oleh Kantor Energi Sumber Daya & Mineral (ESDM) Provinsi Riau. Kabid Ketenagalistrikan Energi Sumber Daya & Mineral (ESDM) Provinsi Riau, Andreani SE, MSi, menyatakan bahwa dibanding periode pertama Bupati HM Harris dilantik sampai kini menginjak periode kedua kepemimpinannya, ratio elektrifikasi listrik di Kabupaten Pelalawan, meningkat dengan pesat.

    "Memang ada tiga program atau kegiatan yang menaikkan ratio elektrifikasi listrik di Pelalawan yakni PPIDK, program Listrik Desa dari Pusat dan program dari ESDM sendiri yakni pengembangan jaringan. Tiga program unggulan itu disimulasikan ke berbagai bentuk program kegiatan hingga tercapailah ratio elektrifikasi listrik saat ini yang hampir menyentuh 90 persen," kata Andreani yang akrab dipanggil Ani ini.

    Ani menjelaskan bahwa untuk ketenagalistrikan kalau dahulu hanya PLN saja sebagai BUMN negara yang diperbolehkan untuk mendirikan pembangkit tenaga listrik tapi kini pemerintah juga wajib mendirikan pembangkit. Hal ini bertujuan dalam meningkatkan ratio elektrifikasi listrik dalam mendongkrak ratio elektrifikasi listrik nasional.

    "Khusus bagi daerah pesisir dan pedalaman di Kabupaten Pelalawan yakni di Kuala Kampar, ESDM membangun PLTS Terpusat di daerah Kuala kampar yakni di Desa Sei Solok, Teluk Bakau dan Teluk Beringin. Kesemuanya berada di Kuala Kampar, pembangunan itu berasal dari APBN namun usulannya dari bawah juga. Pembangunan PLTS terpusat ini merupakan bidang dari Energi Baru Terbarukan (EBTK) ESDM Pusat. Pembangunan PLTS ini juga merupakan salah satu cara untuk menaikkan ratio elektrifikasi listrik di Pelalawan," ujarnya.

    Di tahun 2015, saat Dinas Pertambangan dan Energi masih bercokol di Kabupaten Pelalawan untuk bidang ketenagalistrikan, dinas ESDM melakukan existing ke BUMD yakni Desa Sering dengan panjang jaringan 6 KMs, Terusan baru dengan panjang jaringan 6 KMs dan juga Ibukota Pelalawan yakni Pangkalankerinci.

    "Sebenarnya ada sejumlah program pemerintah dalam membangun jaringan listrik di Kabupaten Pelalawan namun karena anggaran yang besar, maka kami masukkan proposal ke PLN sekitar tahun 2015. Program pembangunan jaringan listrik ini sekarang tengah dikerjakan oleh PLN, program itu diantaranya yaknia pembangunan jaringan yang akan dibangun sepanjang 146,621 KMs, melewati 3 kecamatan dan 10 desa dengan estimasi anggaran kurang-lebih 85 Milyar, kondisi geografisnya tanah rawa dan gambut," ujarnya.

    Dikarenakan estimasi anggaran yang besar, lanjut Ani, di tahun 2015 pihaknya memberikan proposal ke PLN. Program tersebut kini tengah dikerjakan oleh PLN. Tidak beroperasinya PLTMG Langgam Power yang dilaunching tahun 2013 lalu, secara tidak langsung, tak berpengaruh dengan ratio elektrifikasi listrik di daerah yang lahir di bulan Oktober 1999 ini.

    "Tidak beroperasinya PLTMG Langgam Power mungkin dikarenakan harga jual per Kwh ke PT PLN sedikit lebih rendah sehingga menyebabkan nilai investasi terlalu lama," katanya.

    Dikatakannya, salah satu upaya agar PLN dapat memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat sebaiknya disarankan agar perusahaan sawit yang ada di Kabupaten Pelalawan dapat mengembangkan existing ke PLN. Sehingga dengan begitu, daerah di Kabupaten Pelalawan yang jauh dari pembangkit bisa terbantu oleh perusahaan.

    "Salah satunya seperti di RAPP yang memiliki Riau Power Energi yang telah excess power ke PLN sebanyak 5 MW dan ke BUMD Tuah Sekata sebanyak 4,75 MW. Kemudian perusahaan Musim Mas yang telah existing ke PLN atau jual daya ke perusahaan negara tersebut hingga bisa menghidupkan dua desa yang ada di Desa Talau dan Desa Beringin, yang keduanya berada di Pangkalankuras. Jadi andaikata semua Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) berbuat sama seperti apa yang dilakukan dua perusahaan itu, bukan hal yang mustahil wilayah-wilayah terjauh di Kabupaten Pelalawan pun bisa terjangkau listrik," ujarnya.

    Sinergitas dan berkesinambungan menjadi menjadi kunci sinkronnya program antara Pusat dan Daerah. Apalagi sampai usia negara ini lebih dari separuh abad, jalan menuju kedaulatan energi itu sepertinya masih panjang. Masih banyak rakyat-rakyat di pelosok nusantara ini yang belum bisa menikmati listrik karena pasokan yang terbatas. Sebagian lagi masih mengalami kelangkaan bahan bakar minyak karena infrastruktur yang belum merata.  

    Padahal dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 disebutkan, bahwa "Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah milik negara yang akan dipergunakan untuk sebanyak-banyaknya kemakmuran rakyat." Goresan naskah tersebut merupakan karya emas para pendiri negara ini yang telah begitu peduli dan memahami bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia didirikan untuk rakyat, bukan sebaliknya. Karena itu, sudah selayaknya apabila pengelolaan kekayaan alam kita "wajib" berpedoman pada pasal tersebut.

    Memang, membangun kedaulatan energi dengan berpijak pada konsep pemerataan berkeadilan bukanlah persoalan mudah. Dibutuhkan komitmen dari semua pihak dan lintas sektoral agar terwujud energi berkeadilan ke semua lapisan masyarakat. Kementerian ESDM tidak mungkin juga melakukan sendiri tanpa dukungan dari masyarakat, pemerintah dan sektor swasta. Karena tanpa adanya dukungan, maka mustahil tercipta energi berkeadilan yang akan menyalakan 'purnama'-'purnama' di seluruh pelosok nusantara. Semoga!***
     


    Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
    Silakan SMS ke 0813 7176 0777
    via EMAIL: redaksi@halloriau.com
    (mohon dilampirkan data diri Anda)

     
    Berita Lainnya :
  • Mitsubishi Xpander Siap Meluncur, Wajah Dapat Penyegaran, Harga Makin Mahal?
  • Tampil Sebagai Runner Up Kiper PS UIR Terpilih Pemain Terbaik Piala Menpora 2019
  • KPU Rohul Raih Tiga Penghargaan Penilaian Penyelenggaraan Pemilu 2019 Provinsi Riau
  • Miris, Uang Perjalanan Dinas Pejabat di Setda Kuansing Sulit Cair dan Belum Dibayar
  • Jarak Pandang Terbatas, Aktivitas Bandara SSK II Terganggu, 4 Pesawat Tak Berani Mendarat
  •  
    Komentar Anda :

     
    Eksekutif : Pemprov RiauPekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved