Meranti
Pemkab Meranti | DPRD Meranti
 
+ INDEX BERITA

22:09 - KPID Riau Bentuk KCSI di K...
21:50 - Bupati Meranti Buka Kejurd...
17:12 - Mobil Dinas Pemkab Meranti...
14:18 - Embarkasi Antara Riau Tida...
19:06 - KPU Meranti Ajukan Anggara...
19:43 - Ramdoor Pelabuhan Tanjung ...
18:03 - Polemik Penetapan Ibukota ...
20:19 - Tidak Ada Izin, Papan Rekl...
17:47 - ASN dan Honorer di Meranti...
19:16 - Nambah Cuti Idul Fitri, Pe...
16:03 - Tidak Dipungut Retribusi, ...
20:28 - Pulang Mudik, Kabid Kebers...
17:09 - Layanan Angkut Libur Lebar...
19:30 - Antrean Panjang Mengular C...
11:56 - Bupati Meranti Dijadwalkan...
19:17 - Roro Desa Insit Beroperasi...
15:18 - Tahap Commissioning, Peres...
19:24 - 1 Juni, Gubri Resmikan Ror...
17:28 - Berkat Viral di Medsos, Fi...
19:55 - Pemkab Meranti Usulkan Tar...
10:24 - TimPora Kepulauan Meranti ...
18:17 - Sidak BBPOM di Meranti, Cu...
19:24 - Kembangkan Tasik Nambus, D...
19:34 - Antisipasi Sengketa, Wakil...
19:28 - Penambahan Fasilitas, RTH ...
19:27 - Disparpora Meranti Gelar F...
16:05 - Jalin Silaturahmi, zAzg Me...
15:32 - Warga Selatpanjang Waspada...
13:42 - Setelah Masuk Rekor MURI d...
18:04 - Sidak Bulan Ramadan, Pegaw...
12:05 - Safari Ramadan Gubri ke Me...
16:14 - Pemkab Meranti Anggarkan R...
22:30 - Bupati dan Kades Se-Merant...
18:31 - Mahasiswa Diharap Bersabar...
16:22 - Istri Polisi Pojokkan Bupa...
16:07 - Pemkab Meranti Fasilitasi ...
15:00 - Pemerintah Desa Fokus Pada...
18:25 - Pemkab Meranti Minta Pemil...
15:05 - Pertama di Riau, Kepulauan...
19:32 - Selama Ramadan, Pemkab Mer...
16:36 - Prabowo-Sandi Menang Tipis...
19:52 - Resmikan Bazar Ramadan, Se...
18:40 - Belajar Pengolahan Air Gam...
18:45 - Tradisi Menjelang Ramadan,...
16:38 - Satpol PP Meranti Tertibka...
19:05 - Tarhib Ramadan, Ribuan Pel...
18:52 - Sambut Ramadan 1440 H, RSU...
14:56 - Baznas Kepulauan Meranti ...
14:29 - Cegah Korupsi, Pemkab Mera...
17:48 - Sekda Meranti Akui Sering ...
 
Meranti Rawan Teror Buaya, BKSDA Riau Imbau Pemkab Pasang Rambu Tanda Bahaya
Senin, 05/11/2018 - 17:26:17 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
TERKAIT:

SELATPANJANG - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau menyatakan Kepulauan Meranti menjadi habitat Buaya Muara yang terkenal ganas.

Tak jarang satwa dari zaman purbakala ini muncul ke permukaan, bahkan menyerang warga yang beraktivitas di sungai hingga menelan korban jiwa.

Seperti diketahui, konflik buaya dengan manusia di Kepulauan Meranti dari tahun ke tahun terus saja terjadi. Jika tahun 2017 lalu sudah tiga orang warga diterkam buaya. Kini hingga Oktober 2018 sebanyak 4 orang juga diterkam hewan predator itu.

Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Riau Mulyo Hutomo mengungkapkan, berdasarkan pengamatan, buaya di Meranti tersebut merupakan jenis Buaya Muara (crocodile porosis). Buaya jenis ini, kebanyakan hidup di muara atau sungai-sungai.

Dia juga menegaskan, yang dilakukan BKSDA Riau saat ini adalah tahap identifikasi, belum sampai penangkapan.

”Karena ini termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang maka untuk penanganannya juga tidak sembarangan. Kita identifikasi dan observasi dulu habitatnya, untuk menentukan langkah ke depan,” kata Hutomo, Senin (5/11/2018).

Selanjutnya, BKSDA akan menganalisa dan memetakan daerah mana yang paling rawan untuk kemudian dipasang rambu tanda bahaya.

Untuk daerah yang sering terjadi konflik antara manusia dan buaya, BKSDA meminta pemerintah setempat segera memasang rambu sebagai antisipasi supaya tidak banyak korban lagi. Begitu juga rambu untuk peringatan bagi warga supaya mengurangi aktivitasnya di sungai.

"Tidak perlu menunggu BKSDA memasang, pemerintah daerah misalnya camat dan Kades bisa memasang karena biayanya tidak mahal," kata Hutomo.

Untuk Kabupaten Kepulauan Meranti, Hutomo menyebut sungai-sungai di sana sudah dalam kategori wajib dipasang. Pasalnya di daerah ini paling sering terjadi serangan yang menyebabkan korban jiwa.

"Meranti sudah wajib, nanti kita segera kordinasikan sama pemerintah setempat," katanya lagi.

Hutomo menyatakan, konflik manusia dengan buaya tergolong sulit diatasi. Proses evakuasi buaya juga tidak mudah karena kemunculannya yang susah ditebak.

Ia mengatakan, sifat alami buaya sangat jarang menjadikan manusia sebagai sasaran. Kebiasaan manusialah yang menurut dia kerap memicu serangan buaya. Dimana sungai tempat buaya berkeliaran sering dijadikan tempat merakit tual sagu.

"Dalam pemantauan kami, serangan buaya terjadi secara insidentil, biasanya karena masyarakat sering beraktifitas yang menyebabkan buaya menjadi terganggu. Serangan pasti terjadi jika kita beraktifitas di dalam air, apalagi bagi masyarakat yang kerjanya merakit tual sagu. Untuk itu jangan pernah sendiri dalam bekerja, tapi harus ada yang menjaga, karena pergerakannya sering tidak kelihatan," ungkap Hutomo.

Penulis : Ali Imron
Editor  : Fauzia


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Setelah Diblender Jus Buah Harus Diminum Sebelum Satu Jam, Ini Sebabnya
  • Jadi Pembicara di Workshop LLDIKTI, Rektor UIR Tegaskan Pentingnya Kerjasama Perguruan Tinggi
  • 41 Orang Tewas Akibat Serangan 100 Pria Bersenjata di Mali Tengah
  • Pemprov Riau Usulkan Kuota 10.381 pada Penerimaan CPNS
  • Sekretaris Disdalduk-KB Bengkalis Alami Kecelakaan
  •  
    Komentar Anda :

     
    Eksekutif : Pemprov RiauPekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved