Internasional
BREAKING NEWS :
264 Siswa SMA Berlaga di O2SN Riau
 
Catatan Bambang Indra Kusuma dari Kunjungan Obama di Bali
Fokus pada China, Tegakkan Lagi Pengaruh di Asia Pasifik
Rabu, 23 November 2011 - 23:02:20 WIB
Presiden Amerika Serikat Barack Obama
TERKAIT:
 
  • Polisi Buru 30 Pelaku Perusakan Penertiban PETI
  • Sunarko Ancam Lapor Balik Supir Trans Metro
  • 2 Tersangka Kerusuhan Penertiban PETI Ditahan
  •  

    Kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Bali, Indonesia, akhir pekan kemarin, memang sangat membawa arti penting bagi kedua negara. Usai platform kerjasama menyeluruh (comprehensive partnerships) dicanangkan, kedua negara menunjukkan semangat keakraban yang luar biasa.
    Realisasi kerjasama berbagai sektor sudah dilakukan. Yang sudah riil adalah bidang pendidikan dan pertahanan. Di bidang pendidikan, kerjasama tingkat menteri, sudah disepakati di Washington DC, dengan meningkatkan beasiswa bagi pelajar Indonesia, serta soft loan bagi mahasiswa asal Indonesia.
    Di bidang militer, AS telah memberikan hibah 24 pesawat tempur canggih F16 fighting falcon. Selain itu, normalisasi kerjasama antar angkatan, sebagaimana pelatihan Kopassus sebagaimana sudah berjalan. Fokus memerangi teror juga makin erat dengan Polri.
    Pada bidang ekonomi, dalam kunjungan tersebut Obama menekankan kesediaan AS dalam mengembangkan perekonomian Indonesia. Meski Indonesia masih 'malu-malu' meneken pakta perdagangan bebas, tetapi AS sudah melebarkan dan melonggarkan kemauannya untuk terus meningkatkan kerjasama bidang ekonomi ini.
    "Belum pernah hubungan Indonesia-Amerika seakrab ini," komentar Dubes RI di Washington Dino Pati Djalal.
    Fokus ekonomi, memang menjadi agenda utama dalam kunjungan Obama kali ini. Forum KTT Asean dan KTT terkait, yang dihadiri oleh beberapa pemimpin Asia, seperti China menjadikan Bali sebagai ajang strategis untuk menempatkan AS dalam pesan globalnya di kawasan ini.
    Pers AS sendiri, sebagaimana diunggahkan The Washington Post, lebih banyak mengupas hubungan AS dengan China.
    Pertemuan Obama dengan Perdana Menteri China Wen Jiabao membuat kesan yang kuat di Asia. Sebuah pesan optimisme dan konsep exceptionalism AS untuk pidato politik presiden. Maklum, dalam beberapa bulan terakhir, unsur-unsur itu sebagian besar tidak ada karena Obama difokuskan pada tugas menciptakan lapangan kerja dan membatasi pengangguran dalam negeri.
    Obama kembali ke Washington Minggu kemarin dengan penuh optimistis tentang tur Asia-Pasifiknya itu. Obama berhasil dalam menempatkan perhatiannya ke daerah di mana pengaruh AS banyak yang menilai telah memudar.
    Salah satunya, yakni niat AS membuat pakta perdagangan regional baru, mendirikan pos militer AS di Darwin, Australia dan membuka kembali hubungan diplomatik dengan pemerintah lama tertutup otokratis di Burma.
    Langkah itu merupakan sinyal ke China bahwa AS tidak akan menekuk aturan internasional dengan mengorbankan bisnis AS dan keamanan global.
    Secara bersamaan, Obama menarik komunitas bisnis AS dan menumpulkan kritik dari saingannya di Partai Republik bahwa ia terlalu lunak dalam mengantisipasi tumbuh cepatnya negara saingan seperti China.
    "Di Amerika Serikat, ada saat di mana kita mempertanyakan pengaruh kita di seluruh dunia," kata Obama di Honolulu, menjawab pertanyaan di forum 1.000 kepala eksekutif  perusahaan besar yang melakukan bisnis di wilayah tersebut. "Berita yang saya harus sampaikan bagi rakyat Amerika adalah: kepemimpinan Amerika masih diterima."
    Dari berbagai forum dengan Asia, fokus hubungan AS-China selalu dominan. Era Obama, mendapat kritikan bahwa AS terlalu tumpul dalam menghadapi perkembangan China, yang dinilai gagal dalam mentaati "aturan main."
    Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden China Hu Jintao, belum lama ini, Obama menekankan bahwa para eksekutif bisnis AS telah tumbuh frustrasi dengan lambatnya reformasi dalam kebijakan ekonomi China, yang merasa tidak adil. Dalam nilai mata uang negara yang rendah dan melihat ke arah lain pada pelanggaran hak kekayaan intelektual.
    Pesan itu ditujukan untuk menopang kepercayaan dalam komunitas bisnis bahwa pemerintahan Obama bersedia mengambil pendekatan yang lebih keras terhadap China.
    Meski gagal dalam memaksa China ikut dalam pakta baru perdagangan, tetapi AS mencatat kemajuan dalam pakta perdagangan Trans-Pasifik itu, serta kemitraan dengan delapan negara lainnya.
    Menggeliatnya Asia, khususnya China, agaknya mendorong kekhawatiran pemimpin bisnis AS, yang melihat pertumbuhan ekspor ke China sebagai pasar mereka yang paling penting dan paling sulit.
    Calon presiden Partai Republik, yang juga mantan Gubernur Massachusetts, Mitt Romney, menyerang kebijakan terhadap China serta kemampuan Obama untuk meyakinkan komunitas bisnis. Tetapi, misi selama sembilan hari ini telah menepis kritikan itu.
    Bill Weldon, CEO Johnson & Johnson, yang hadir di forum Honolulu terkesan dengan kinerja Obama.
    "Pesan tentang perdagangan sangat jelas. Pesan tentang dukungan untuk bisnis di AS sudah jelas," kata Weldon.
    Obama pun sudah kembali ke Washington. Eksekutif di dalam negeri AS pun kembali bertanya, apakah Obama akan menindaklanjuti janji perdagangan dan apakah retorika dan tindakan berani itu mungkin bisa mengganggu China, agar lebih terbuka dan lebih besar akses ke pasar China?
    Clyde Prestowitz, presiden Institut Strategi Ekonomi, menggambarkan pernyataan Obama di China sebagai  "cukup sulit." Sebab, pada dasarnya AS menghadapi China sebagai manipulator mata uang. "Sebuah istilah yang pejabat Departemen Keuangan sangat berhati-hati menggunakannya.
    Pernyataan Obama bahwa China tidak bermain dengan aturan internasional, menurut Prestowitz, yang pernah menjadi negosiator selama pemerintahan Reagan, bahwa statemen itu belum tentu menohok China. "Selalu ada pertanyaan, apakah itu akan benar-benar efektif  bagi China? Sejauh ini, tidak."
    Sementara Romney di Manchester, New Hamshire, mengatakan, ia akan mengadopsi sikap yang lebih keras terhadap China..
    "Keprihatinan saya tentang China adalah mereka tidak bermain sesuai aturan," kata Romney.
    Obama dengan halus menangkis, ia harus menyeimbangkan nasihatnya sementara pada saat yang sama harus cukup hati-hati dan tidak memicu situasi yang merusak ekonomi.
    Namun Obama tampak tegas dan mengambil risiko saat ia berusaha untuk menempatkan AS di garis depan dalam membantu membentuk kawasan Asia-Pasifik di abad 21.
    Menggunakan retorika yang menarik, Obama mengumumkan, ia akan mendirikan pangkalan militer AS di utara Australia.  Satu kompi terdiri dari 250 marinir sudah mengambil langkah tentatif pertama ke pangkalan baru itu, sebagai kemitraan dengan sekutu penting di dekat kawasan yang pesat berkembang yakni Asia Tenggara.
    Keputusan lain yang mengejutkan adalah mengutus Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton ke Burma, juga dikenal sebagai Myanmar, untuk kunjungan dua-hari Desember depan. Tentunya, ini adalah sinyal pencairan diplomatik dengan negara yang telah lama masuk daftar hitam oleh AS karena pelanggaran hak asasi manusia.
    Dengan Wen Jiabao, AS juga menyinggung soal sengketa teritorial di Laut China Selatan. Gedung Putih, melalui penasihat keamanan nasional Thomas E. Donilon mengatakan, sementara AS tidak mengambil posisi pada klaim teritorial di China Selatan yang kaya potensi energi itu. (BIK dari Washington DC)

    Komentar (0 Komentar)


    Isi Komentar :
    Nama :
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

     
     
     
    Eksekutif : Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
    Other : Iklan Baris
    Management : Redaksi Disclaimer Karier
        © 2011-2013 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved