Kuansing
Pemkab Kuansing | DPRD Kuansing
 
+ INDEX BERITA

19:42 - DPRD Kuansing Mulai Lakuka...
06:27 - Selama Lima Tahun, Hanya 1...
21:55 - Andi Putra dan Naswan Dibe...
21:35 - Kebanyakan Anggota DPRD Ku...
20:58 - Mahasiswa Soroti Anggaran ...
21:23 - Jelang Pelantikan, Dipasti...
20:23 - Sudah Diagendakan Banmus, ...
19:23 - Seluruh Anggota Komisi di ...
05:44 - Anggota DPRD Kuansing Terp...
20:41 - Masa Jabatan Akan Berakhir...
11:02 - Rustam Effendi: Kalau Rp 1...
17:08 - Dewan Kantongi Nama-nama P...
15:15 - Fraksi di DPRD Kuansing So...
15:40 - Komisi B DPRD Kuansing Min...
22:30 - Dewan Kuansing Sarankan Fa...
16:49 - Tunggu Penetapan KPU, Pela...
15:03 - DPRD Kuansing Tidak Berika...
18:10 - DPRD Sayangkan Ada Kasubag...
18:16 - Parah, Kehadiran Anggota D...
10:44 - Musliadi Minta Dewan Tak D...
 
Dewan Kuansing Sarankan Fahrudin Tempuh Jalur Hukum, Gugat SK Pemberhentian dari Bupati
Selasa, 02/07/2019 - 22:30:12 WIB
Hearing terkait adanya surat tembusan yang diterima DPRD Kuansing soal gugatan Fahrudin.
Hearing terkait adanya surat tembusan yang diterima DPRD Kuansing soal gugatan Fahrudin.
TERKAIT:
 
 

TELUK KUANTAN - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kuansing, Riau menggelar hearing terkait adanya surat tembusan yang diterima DPRD Kuansing adanya gugatan Fahrudin yang meminta Bupati membatalkan Surat Keputusan (SK) Pemberhentian dirinya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). 

Dimana Fahrudin sendiri diberhentikan dengan tidak hormat bersama 11 orang lainnya karena terlibat tindak pidana korupsi dan telah dijatuhi hukuman berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht). SK pemberhentian tersebut ditandatangani Bupati Kuansing H Mursini.

SK pemberhentian tersebut lalu digugat oleh Fahrudin, dan tembusan gugatan tersebut juga diterima oleh DPRD Kuansing. 

Hearing yang digelar pada Selasa (2/7/2019) siang dipimpin langsung Ketua Komisi A DPRD Kuansing Musliadi dihadiri sejumlah anggota Komisi A. Kemudian dari Pemkab Kuansing hadir Asisten I Setda Muhjelan, Sekretaris Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Hendri Siswanto, Kabag Hukum Suriyanto serta sejumlah Kabid. 

Menurut Fahrudin yang hadir dalam hearing, SK pemberhentian yang ditandatangani Bupati cacat hukum dan harus ditinjau ulang. "Seharusnya yang menandatangani SK pemberhentian dirinya Gubernur bukan Bupati," katanya. 

Menurutnya, terjadi penyalagunaan wewenang kalau kita mengacu kepada Undang-undang Nomor 30 tahun 2014 tentang administrasi pemerintahan. Seharusnya yang menandatangani SK pemberhentian pejabat golongan IVb itu Gubernur bukan Bupati.

"Kemarin itu sebelum diberhentikan harus dipanggil dulu, mungkin diberi sanksi atau dibentuk tim hukum untuk mempelajari sebelum SK ditandatangani Bupati," katanya. 

Menanggapi hal itu Ketua Komisi A Musliadi meminta penjelasan pihak Pemda terkait persoalan ini. 

"Menurut beliau (Fakhrudin,red) tidak ada kewenangan Bupati memberhentikan pejabat golongan IVb, ini kita minta jawaban Pemda," kata Musliadi. 

Kemudian yang kedua, ada surat dari Menpan yang terbaru vonis dibawa dua tahun tidak menjadi lokus pemberhentian atau bisa memberikan hak dan kewajiban. 

"Ini saya minta penjelasan Pemda, kalau menurut pak Fakhrudin ini tidak sesuai dengan proses dan aturan," katanya. 

Asisten I Setda Kuansing Muhjelan yang membidangi masalah Pemerintahan mengatakan, sebenarnya pak Bupati, BKPP, Kabag Hukum tidak ada yang menghendaki hal ini terjadi. Kemudian dasar hukum seluruh landasan-landasan yang menjadi pemaksa Bupati untuk tetap menerbitkan SK tersebut sangat banyak. 

"Jadi ditekan terus, baik secara tertulis, lisan maupun intruksi langsung, siapa yang belum melakukan, siapa yang belum mengeksekusi, dan ini menjadi momok seluruh kepala daerah," ujar Muhjelan. 

Menurut Muhjelan, Pemda sendiri sebenarnya tidak menghendaki hal ini terjadi, sehingga dalam rentang waktu yang panjang kita terus melakukan konsultasi. 

Selanjutnya data yang masuk kepusat bukan berdasarkan laporan dari Pemda Kuansing. Data tersebut langsung masuk, ketika seorang ASN bermasalah hukum terkait kasus dugaan korupsi dimulai dari penyelidikan itu data sudah masuk ke BKN. 

Menurut Muhjelan, terkait dasar pemberhentian sebelum menerbitkan SK kita sudah melakukan kajian sesuai aturan. "Jadi jika ada kecacatan dalam produk SK maupun dari proses tahapan kita siap, kalau perlu kita sama-sama ke PTUN," katanya. 

Musliadi sebagai pimpinan rapat menyarankan agar saudara Fakhrudin bisa menempuh jalur hukum. "Silahkan melalui PTUN kalau masih bisa atau ada aturan lain yang masih bisa," katanya. 

Fahrudin mengaku proses melalui jalur hukum atau PTUN sudah terlambat apabila mengacu kepada surat tembusan tersebut. 

"Seharusnya tidak perlu menempuh jalur hukum, dari awal dengan niat baik saya rasa sudah cukup, untuk mencabut SK tersebut," katanya. 

Penulis : Robi Susanto 
Editor: Yusni Fatimah


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • PWI Riau Sambangi VJA, Silaturahmi dan Bertukar Informasi Terkait Perkembangan Media
  • Sidang Lanjutan Penipuan Umrah, Dirut JPW Minta Air Asia Kembalikan Uang Tiket Jemaah
  • Kejari Kuansing Akan Tarik Kendaraan Dinas yang Dikuasai Mantan Pejabat
  • Bersama HIPGABI Riau, PPNI Meranti Bagikan Masker N95 di Selatpanjang
  • Gelar Aksi Damai, Massa Cipayung Nilai Gubri Lamban Atasi Karhutla
  •  
    Komentar Anda :

     
    Eksekutif : Pemprov RiauPekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved